Saturday, May 11, 2013

PERJALANAN TRADISI TULIS DAN BACA AL-QUR'AN (QIRO'AH SAB'AH)



 Oleh: Muhammad Barir


A.     LATAR BELAKANG  PEMBATASAN QIRO’AH
Pada dasarnya antara Sab’atu Ahruf dengan Qiro’ah as-Sab’ah adalah dua inti yang berbeda namun masih memiliki keterkaitan Historis.
Rosululla Bersabda:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَأَنِي جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ (رواه بخاري)[1]
Hadis ini turun ketika nabi berada di parit bani Gafar Pada dasarnya al-Qur’an diturunkan dengan satu bacaan namun Rosulullah dengan kebijaksanaan dan kecerdasan beliau dengan membaca kondisi logat dan karakter lidah umat manusia yang beraneka ragam, maka rosulullah meminta keringanan agar al-Qur’an dapat dibaca dengan ragam yang berfariasi agar memudahkan tiap logat dan lisan untuk menyesuaikanya. Sampai pada akhirnya permintaan rosulullah diterima dengan dua huruf rosul terus meminta dan akhrnya dikabulkanlah tiga huruf sebagai keringanan namun rosul tetap meminta keringanan lagi sampai akhirnya diberi keringanan dengan tuju huruf yang ketika manusia membaca dengan bacaan manapun akan diterima.
Namun seirng penyebaran pendidikan al-Qur’an ke berbagai daerah akhirnya al-Qur’an dapat masuk dihati dan lidah masyarakat sesuai dengan bacaan uama yang mengajarkanya namun ternyata banyak ditemukan bacaan yang berbeda ketika antara orang dari golongan dan daerah yang berbeda berkumpul dan saling membacakan al-Qur’an.
Pada perang Armenia dan Azerbaijan dengan penduduk Irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Hazaifah bin Yamamah. Ketika ia berkumpul dengan orang-orang islam ia melihat banyaknya perbedaan bacaan dan sebagianya bercampur dengan bacaan yang salah, namun ketika saling bertukar argument mereka mempertahankan dengan teguh atas pendirianya.
Huzaifah yang saat itu tidak bisa berbuat banyak kemudian lapor kepada shohabat Utsman. Dan akhirnya Shohabat Utsman menarik kesimpulan bahwa jika hal ini dibiarkan maka semakin bertambah tahun akan semakin banyak pula penyimpangan yang terjadi. Maka shohabat utsman menulis surat kepada Hafshoh untuk meminjam mushaf untuk disalin dan ketika telah disalin, mushaf itu disebar keberbagai daerah dan mushaf lainya dibakar.[2]
Pada era utsman banyak pertikaian yang terjadi mengenai Qiro’ah, sebagaimana dua orang murid yang beajar dari guru yang berbeda ketika berselisih dengan bacaanya maka perselisihan itu akan menjalar ke gurunya pula.
Namun pembatasan Qiro’ah dengan jalan penetapan Mushaf yang disepakati tidak sepenuhnya bisa membendung perkembangan Qiro’ah, karena pada dasarnya antara mushaf yang tertulis dengan Qiro’ah yang berupa oral adalah dua onti yang berbeda. Diantara berbagai Qiro’ah yang berkembang di situ terdapat Qiro’ah yang memiliki sanad yang dinukil secara sambung sampai pada rosulullah dan yang lainya adalah bacaan yang telah keluar dari jalur kebenaran. Untuk itu pada abad ke empat beberapa ulama banyak melakukan penelitian sanad mencari qiro’ah yang benar-benar memiliki sanad yang valid.

B.     MUNCULNYA IDE PEMBATASAN QIRO’AH
Pada dasarnya embrio munculnya ide pembatasan qiro’ah dimulai sejak abad ke-3 hijriyah seirirng munculnya karya Abu Ubai al-Qosim  bin Salam (w. 223 H) yang dalam isinya dipaparkan beberapa qori’ (ahli Qiro’ah) yang terkenal Abu Ubaid dikatakan oleh as-Suyuti sebagai orang yang pertama menuis karya Qiro’ah. Selain itu juga ada karya Imam Ahmad bin Zubair (w. 258 H) yang ia beri nama  الخمسة(al-Khamsah) dan kitab-kitab karya abu bakar ad-Dajuni (w. 324 H) yang ia beri nama الثمانية (ats-tsamaniyah)[3] dan banyak lagi yang lainya. Dalam kitab-kitab di atas termuat berbagai ahli Qiro’at yang telah dipilih,
pemilihan dan kritik kredibilitas imam Qiro’at ini muncul seiring banyaknya Imam Qiro’ah mengimplikasikan banyaknya pula Rowi dari mereka dan banyak pula sanad-sanad yang lemah sehingga perlu dicari mana sanad yang terakui validitasnya. Selain itu peringkasan dari berbagai Qiro’ah menjadi tuju dilakukan dalam misi menjaga Qiro’ah agar tetap murni dan menghindarkan dari munculnya Qiro’ah baru yang dibuat-buat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


C.     ERA PEMBATASAN QIRO’AH MENJADI TUJU
Peringkasan Qiro’ah dilakukan dengan menetapkan beberapa Qiro’ah yang diakui ke dalam susunan tertentu dengan kehati-hatian dalam mempertimbangkan mana imam yang layak dan mana imam yang kurang layak, hal ini dilakukan berdasar kwalitas sanad yang dipakai oleh tiap rowi.
Pada akhir abad ke tiga Hijriyah dan awal abad ke empat Hijriyah muncul seorang ulama’ yang bernama Imam Abi Bakar bin Mujahid al-Bagdadi (w. 324 H) yang merangkum berbagai Qiro’ah kedalam tuju Qiro’ah maka dari itu ringkasan ini dinamakan dengan Qiro’ah as-Sab’ah.

D.    TEORI ULAMA DALAM MELAKUKAN SELEKSI ROWI
Dalam rangka menghindari masuknya riwayat Qiro’ah yang lamah kedalam riwayat yang kuat yang nilai validitasnya dapat diakui berasal dari Rosululah SAW, maka para ulama membuat beberapa teori sebagai tolok ukur yang menjadi pedoman dalam seleksi rowi:
1.      Orang-orang yang termasuk diakui ilmu Qur’anya, yakni mereka yang mengetahui bahasa Arab, Qiro’ah, artikulasi perkata dalam al-Qur’an tahu karakteristik Qiro’at kelemahan dan kelebihanya. Ulama tingkat ini dianggap bisa sebagai tempat menyandarkan kepercayaan.
2.      Orang yang lemah dalam pengetahuanya namun bisa dipegang perkataanya.
3.      Orang yang menerima apa adanya tanpa mempertimbangkan I’rob (kaidah gramatikal) dan aspek kebahasaan karena lalai, lupa terhadap hafalanya namun dianggap oleh meyoritas orang sebagai seseorang yang jujur.
4.      Tingkatan terakhir ialah orang yang cerdas, pintar terhadap bahasa arab, namun ia membuat bacaan yang tidak pernah terdeteksi oleh riwayat lain dalam arti membuat sanad palsu.[4]




E.     TUJU IMAM YANG TERPILIH SEBAGAI AHLI QIRO’AH AS-SAB’AH
Kata “Qari’ “, yang bentuk jamaknya adalah “Al Qurra’ “ secara etimologi adalah merupakan isim Fa’il dari kata kerja “Qara’a”. sdang secara etimologis, ia mengandung pengertian seorang imam di antara para imam yang termuka dan kepada mereka qira’ah-qira’ah di nisbatjkan. Dan disini kami hendak menyelipkan informasi tentang mereka yang terkenal satu persatu, disamping sejumlah tokoh yang dikenal meriwayatkan dari masing masing qari’ itu. Maksudnya agar kita semua mengenal dan bisa menela’ah meski secara sepintas sehingga kiuta bisa mengenal secara ilmiah. Karena mereka merupakan pengemban estafet penjaga Al Quran al Karim melalui jalur jalur yang menyebar ke berbagai penjuru dunia islam, selama berabad-abad.
Imam ibn Mujahid telah menyeleksi diantara ulama ahli Qiro’ah dan dipilih tuju orang yang dianggap memiliki keimuan yang tinggi, memiiki sanad yang kuat, dan diakuwi oeh seluruh kalangan, tidak ditemukan keraguan atas kesholihan, kejujuran, sehingga banyak murid yang mengharapkan ilmu yang dimilikinya:
1.      Nafi’
Abu Ruwaim Nafi’  bin Abdur Rahman bin abi Na’im al Madaniy (w. 169 H) yang berasal dari Madinah. Dia mengambil qira’ah dari Abu ja’far al-Qariy dan dari sekitar tujuh puluh tabi’i. mereka mengamil dari Abdullah ibn Abbas dan Abu Hurairah, dari Ubaiy ibn Ka’b dari Rasulullah saw. kepadanya kepemimpipnan qira’ah mencapai puncaknya di madinah al Munawwarah. Dia wafat pada tahun 169 H. Yang masyhur meriwayatikan darinya antara lain Qalun dan Warasy.
2.      Ibn Katsir
Abu Muhammad atau Abu Ma’bad, Abdullah ibn  Katsir ad-Dariy (Ibn Katsir [w. 120 H]) dari Makah yang berpembawaan tenang dan berwibawa. Dari kalangan sahabat dia bertemu dengan Abdullah ibn az-Zubair, Abu Ayyub al-Anshariy dan Anas ibn Malik.
Dia meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibn Abbas dari Ubay ibn Ka’b dari rasulullah saw. dia berguru(qira’ah) pada Abdullah ibn as-Saib al- Makhzumiy. Abdullah ini membaca dihadapa Ubay ibn Ka’b dan Umar ibn al- Khaththab. Kedunya membaca dihadapan Rasulullah saw. dia wafat tahun 120 H di makkah al Mukarramah. Yang termasyhur meriwayatkan darinya tetapi melalui para muridnya adalah al Bazziy dan Qunbul.
3.      Abu Amr
Abu Amr Zabban ibn al Ala ‘Ammar al Bashriy(w. 154 H) dari Bashrah. Dia termasuk paling tahu tentang Qira’ah, disamping memiliki kejujuran dan kepercayaan dalam agamanya. Dia meriwayatkan dari Mujahid ibn jabr, Sa’id ibn Jubair dari Ibnu Abbas dari Ubay ibn Ka’b dari Rasulullah saw. dia membaca di hadapan sejumlah orang, antara lain Abu Ja’far, Zaid ibn al Qa’qa dan al Hasan al Basriy. Al Hasan membaca dihadapan Haththan dan Abu al ‘Aliyah. Sedang abu al ‘Aliayah membaca dihadapan Umar ibn al Khaththab. Dia wafat (w. 154 H).
 Yang masyhur meriwayatkkan darinya antara lain ad Dauriy dan as- Susi, akan tetapi melalui perantara al Yazidiy Abu Muhammad Yahya ibn al- Mubarak al- Adawiy, yang wafat pada tahun 202 H. dinamai al Yazidiy karena merupakan nisbat kepada Yazid ibn Masyhur, paman al- khalifah al- Mahdiy, karena ia mendidik anak Yazid ibn Manshur itu.
4.      Ibn Amir
Abdullah al- yahshubiy, nisbat kepada Yahshub (w. 118 H) dari Syam. Dia merupakan pakar dari Humair yang diberinama Kun-yah Abu Nu’im dan Abu ‘Imran. Ia merupakan seorang tabi’iy terkemuka, bertemu dengan Washilah ibn al- Asqa’ dan an- Nu’man ibn Basyr. Dia mengambil qira’ah dari al- Mughirah ibn abi Syihab al- Mahzumi dari Utsman bin Affan dari Rasullah saw. diakatakan ia membacakan dihadapan rasulullah langsung.
5.      Asim bin abi Najud (w. 127 H) dinamakan juga Ibn Bahdallah sedang menurut Mana’al Qottan beliau wafat tahun 128 H, dari kufah. Kata Najattu assyiyabah: Aku meratakan pakaian.
6.      Hamzah bin Habib az Ziyad (w. 156 H) dari Kufah. Dia membaca dihadap Abu Muhammad Sulaiman ibn Mihran al-‘Amasy dihadapn Zir ibn Hubaisy, dihadapan Utsman, Ali dan ibn Mas’ud, djihadapan nabi.
Dia seorang yang handal tentang kitabullah serta Hafidz di bidang Hadist, beliau wafat di Hulwan.
7.      Ali bin Hamzah al-Kisa’I (w. 189 H) dari Kufah. [5]
Dia adalah Abu Hasan Ali ibn Hamzah al- Kisa’I an- Nahwiy. Di beri nama laqob al Kisa’iy karena sewaktu ihram dia menggunakan Baju. Abu bakar ibn al- Ambari mengatakan: dalam diri al Kisa’iy terkumpul beberapa hal. Dia paling mahir dibidang Nahwu, satu satunya orang yang dianggap paling tahu tentang Gharib dan orang yang ahli Qira’a. sampai sampai banyak murid yang berduyun-duyun datang kepadanya dan meneladani segala yang dibuatnya.[6]
Dipilihnya ulama-ulama diatas disebabkan oeh dua hal, Pertama, karena ilmu yang melaut, Kedua, karena mereka memiliki sanad yang sambung baik lafadz maupun cara bacanya.

F.      ROWI DARI KETUJU IMAM
1.      Nafi’
a.       Qolun namanya ialah Isa bin Mulya al Madani (w. 220 H) di Madinah. dijuluki Qolun karena keindahan suaranya julukan ini berdasarkan bahasa Romawi yang arti Qolun sendiri adalah baik.
b.      Warasy namanya ialah Utsman bin Sa’id al-Misri (w. 198 H) di mesir dijuluki Warasy karena teramat putihnya.

2.      ibn Katsir.
a.       Al-Bazi nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Abu Bazah (w. 250 H) di makah.
b.      Qunbul nam lengkapnya ialah Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Khalid bin Sa’id al-Maliki al-Makhzumi (w. 291 H) di Makah.
3.      Abu Amr
a.       Ad-Dauri nama lengkapnya adalah Abu Umar Hafs bin Umar bin Abdul Aziz ad Dauri an-Nahwi (w. 246 H) di Bagdad.
b.      As-Susi nama lengkapnya ialah abu Syu’aib Sholih bin Ziyad Abdullah as-Susi (w. 261)

4.      Ibn Amir ayahshubi (w. 118 H) dari Syam.
a.         Hisyam nama lengkapnya ialah Hisyam bin Umar bin Nusair ia diberi kuniyah abul Walid (w. 245 H)
b.         Zakwan nama lengkapnya ialah Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Zakwan al-Quroisyi ad-Damasyki yang dilahirkan tahun 173 H dan wafat tahun 242 H di Damaskus.

5.      Asim
a.       Syu’bah nama lengkapnya ialah syu’bah bin Abbas bin Salim al-Kufi (w. 193 H)
b.      Hafs nama lengkapnya ialah Hafs bin Sulaiman bin Mughirah al-Bazzaz al-kufi (w. 180 H)

6.      Hamzah
a.       Khalaf nama lengkapnya ialah khalaf bin Hisyam al-Bazaz (w. 229 H) di Bagdad.
b.      Khalad nama lengkapnya ialah Khalad bin Khalid dikatakan pula Sairofi al-Kufi (w. 220 H)

7.      al-Kisa’I
a.       Abul Haris nama lengkapnya ialah lais bin kholid al-Baghdadi (w. 240 H)
c.              Ad Dauri nama lengkapnya adalah Abu Umar Hafs bin Umar bin Abdul Aziz ad-Dauri an-Nahwi (w. 246 H) di Bagdad beliau juga menjadi rowi Abu Amr yang telah disebutkan di atas.[7]


[1] Imam Bukhori, Jami’ ash shohih, Mausu’ah al Hadits, Global Islamic Software, AJ wentsink 1991-1997.
[2] Mana’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an (Jakarta: Litera Nusantara, 2002), Hlm. 192-194.
[3] Abdul Qoyum bin abdul Ghofur as-Sindi, Ulum al-Qiro’at (Beirut Lebanon: Darul Basyairul Islamiyyah, 2001), Hlm. 41.
[4] Abdul Qoyum bin abdul Ghofur as-Sindi, Ulum al-Qiro’at (Beirut Lebanon: Darul Basyairul Islamiyyah, 2001), Hlm. 42.
[5] Abdul Qoyum bin abdul Ghofur as-Sindi, Ulum al-Qiro’at (Beirut Lebanon: Darul Basyairul Islamiyyah, 2001), Hlm. 43.
[6] Muhammad Abdul adzim az-Zarqani, Manahilul Urfan fi Ulum al-Qur’an (Jakarta: Gaya Pratama Media, 2002), hlm 468.
[7] Mana’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an (Jakarta: Litera Nusantara, 2002), Hlm. 259-261.

No comments:

Post a Comment