Tuesday, September 22, 2015

Pendekatan Historis dalam Mengkaji Agama






dipersembahkan kepada :
 :
Dr. Sekar Ayu Aryani, MA


 Oleh :


MUHAMMAD BARIR, S.Th.I
 
YOGYAKARTA
2014


A.    Pendahuluan

Penelitian merupakan satu di antara tiga aspek dalam Tri Dharma perguruan tinggi. Pentingnya aspek ini tidak hanya pada dunia akademis namun dalam dunia praktis. Karena hal tersebut, para peneliti terus berusaha mengembangkan berbagai aspek metodologis yang menyokong penelitian salah satunya dengan terus memperluas cara pandang dengan mengusung pendekatan multidisipliner. Saat ini telah banyak tokoh yang ambil bagian untuk mendorong lahirnya pendekatan baru, salah satunya adalah Fazlur Rahman yang berusaha membawa Islam menerobos wilayah normatif menuju sisi historis.
Apa yang dilakukan oleh beberapa tokoh yang sealiran dengan Rahman bukan berarti tanpa kritikan dari tokoh lainnya. Beberapa dekonstruksionis banyak yang pesimis terhadap apa yang dilakukan oleh kaum kontekstualis.[1] Sebaliknya, kaum kontekstualis juga tidak henti-hentinya mendorong gagasan pentingnya aspek historisitas dalam memandang sebuah objek penelitian. Jorge J. E. Gracia merupakan salah satu diantara kritikus terhadap kaum dekonstruksionis. Ia menyayangkan aktivitas penelitian kaum dekostruksionis yang abai terhadap aspek historis, padahal dalam penelitian seperti kajian teks, peran konteks tentu sangat menentukan, karena teks yang diutarakan tidak mungkin terlepas dari latar belakang historisnya dalam ruang dan waktu.[2] 
Perdebatan antara kedua aliran tersebut terus berkembang dan bukan berarti antara keduanya tidak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mengenai pendekatan historis sendiri, sebagai sebuah cara pandang baru terutama dalam kajian Islam, pendekatan ini cukup menarik untuk difahami, dikaji, atau bahkan dikritisi lebih jauh untuk mengetahui masing-masing kelebihan dan kekurangan pendekatan tersebut. tulisan ini merupakan sebuah upaya untuk mengulas pendekatan historis dan korelasinya dalam kajian Islam. Beberapa aspek yang menjadi poin rumusan permasalahan dalam tulisan ini adalah: 1. Bagaimana Knsep pendekatan Historis?, 2. Bagaimana relevansi pendekatan historis terhadap Kajian Islam?, 3. Bagaimana Prosedur penelitian sejarah.



B.     Konsep Pendekatan Hitoris
1.      Memahami pendekatan sejarah
Memahami pendekatan historis tidak bisa lepas dari memahami terlebih dahulu akan makna kata tersebut. Kata historis memiliki kedekatan dengan kata History dalam bahasa Inggris yang memiliki makna sejarah (dalam bahasa arab Syajarah). Kata tersebut diambil dari bahasa Yunani (istoria), yakni gejala-gejala alam yang bersifat kronologis terutama yang berkaitan dengan manusia. Menurut W Bauer (1928) sejarah merupakan ilmu pengetahuan sebagai upaya melukiskan dan menjelaskan fenomena dalam mobilitasnya karena adanya hubungan antara manusia di tengah kehidupan masyarakat.[3] Dari pendefinisian ini, sejarah sebagai sebuah pendekatan atau pendekatan historis tidak bisa terlepas dari kajian peristiwa yang melalui dimensi ruang dan waktu.
Jika menariknya dalam konteks Islam, Menurut Lokatos, apa yang dimaksud dengan Islam Historis adalah sebuah protective belt yakni domain utama dari apa yang disebut ilmu, sistem pengetahuan yang secara langsung bisa dinilai, diuji ulang, diteliti, dipertnyakan, diformulasi ulang, dan dibangun kembali. Dari sini, Islam historis terlepas dari wilayahnya sebagai Islam normatif. [4] Islam tidak lagi dikaji pada aspek normatifnya, melainkan wujudnya ketika hidup di tengah masyarakat, tempat, kondisi sosial, ekonomi, atau bahkan kondisi politik. Hal ini pula yang mengantarkan pendekatan historis mau tidak mau berhubungan dengan sejarah sebagai koreksi atas fatkta. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa sejarah disini bukanlah merupakan sejarah naratif, namun sejarah kritis yang tidak hanya melibatkan deskripsi namun juga analisis motif dan kritik data.
Dalam suatu penelitian, aspek historis bisa ditempatkan pada dua posisi yakni ia sebagai objek kajian dan ia sebagai alat bantu untuk mengkaji dalam arti sebuah bagian dari metode penelitian. Di sinilah aspek penting yang harus ditentukan tentang apakah ia merupakan sebuah pengetahuan atau ia sebagai sebuah pendekatan. Konsekuensi pendekatan historis dalam penelitian terhadap gejala-gejala atas fenomena yang terjadi mengharuskan untuk mempertimbangkan beberapa aspek, di antara aspek tersebut adalah segi-segi prosessual, perubahan-perubahan, dan aspek diakronis. Lebih dari itu pendekatan historis tidak hanya digunakan untuk melihat pertumbuhan, perkembangan, dan kronologis peristiwa masa lampau, namun juga digunakan untuk mengenal gejala-gejala structural, faktor-faktor kausal, kondisional, kontekstual serta unsur-unsur yang merupakan komponen dan eksponen dari proses sejarah yang dikaji.[5]
2.      Karakter pendekatan historis
Selain dicirikan dengan kajian menadalam atas pertanyaan-pertanyaan dasar yang berhubungan dengan realitas yang secara sederhana diwakili dengan pertanyaan-pertanyaan seperti siapa, apa, mengapa, di mana, kapan, dan bagaimana, pendekatan historis juga memperhatikan metode penelusuran dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tidakhanya secara deskriptif naratif, namun lebih berusaha menjawabnya secara kritis analitis, sehingga apa yang dilakukan pendekatan ini tidak hanya  menyajikan wacana naratif namun bertujuan untuk menganalisa alasan, motif dan berbagai hal yang ada dibalik sebuah peristiwa. Aspek penting lainnya dalam pendekatan ini juga adalah kerangka analisis dalam meneropong peritiwa masa lampau yang di awali dengan permasalahan (problem-oriented).[6]  
Pendekatan historis yang diterapkan pada sebuah riset memungkinkan terhadap dua sifat penelitian, pertama adalah subjektif, yakni hasil penulisan sejarah yang tercampuri oleh pra pengetahuan, gaya, dan struktur pemikiran peneliti. Kedua adalah sifat objektif, yakni hasil penelitian yang berusaha mengungkap data sebagaimana adanya data tersebut dapat mengarahkan pada fakta yang objektif. Dari sini, hal yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara data dan fakta. Perbedaan ini penting, berbeda dengan fakta, data merupakan bahan-bahan mentah yang masih membutuhkan proses analisis.[7]

C.    Relevansi Pendekatan Historis terhadap Kajian Agama
Agama sebagai sasaran penelitian dalam pendekatan historis memerlukan pembatasan pendefinisiannya tersendiri. Agama didefinisikan melalui tiga aspek sebagaimana pendapat Keith A Roberts bahwa aspek pertama adalah definisi agama secara subtansial, kedua secara fungsional, dan ketiga ialah secara simbolik. Lebih jauh lagi, menurut Joachim Wach agama juga dapat dilihat dari tiga unsur. Pertama adalah unsur teoritis yang menggambarkan agama sebagai sistem kepercayaan, kedua adalah unsur praktis yang menggambarkan berbagai tindak ritual yang dilakukan oleh pemeluk agama, dan unsur sosiologis yang memposisikan agama dalam hubungan dan peranannya dalam kehidupan sosial.[8]
Agama-agama termasuk juga Islam tidaklah terlepas dari arus sejarah. Bagaimanapun agama hadir dalam dimensi ruang dan waktu terutama sisi keberagamaan pemeluk, ilmu-ilmu yang berkembang, upaya penyebaran, ritual dan praktik keagamaan, dan berbagai kelompok-kelompok yang muncul kesemuanya merupakan sejarah.[9] Secara lebih jauh, pendekatan historis dalam mengkaji agama tidak hanya digunakan untuk menelusuri peradaban dan kebudayaan yang bersinggungan dengannya namun juga menelusuri berkembangnya aktivitas keagamaan dari individu maupun kelompok keagamaan. Dari hal tersebut, pendekatan historis sangat berguna bahkan dalam membantu para sosiolog dalam mengetahui evolusi agama dan perkembangan tipologi kelompok agama.[10] Hal tersebutlah yang pada gilirannya mengantarkan pendekatan hisoris dipertemukan dengan pendekatan sosiologis menjadi pendekatan sosio-historis.
Dari paparan di atas, dapat diketahui bahwa agama dalam pendekatan historis memiliki porsinya sendiri. Ia tidak lagi difahami dari segi normatifitasnya, namun secara lebih jauh juga difahami dari nilai historisitasnya dimana agama tersebut hidup sebagai sebuah sistem keberagamaan yang bersinggungan dengan kondisi sosial, budaya, politik, ekonomi, dan capaian lainnya yang menjadi konteks dimana agama tersebut menyatu dalam aktifitas pemeluknya. Agama dalam posisi ini juga dapat digambarkan sebagai keberagamaan yang dapat dilihat dapat dikritisi dan dapat pula dikembangkan karena agama dari sudut pandang historis tidak hanya mengkaji sakralitas di dalam substansi agama namun terkadang mengkaji sisi luar dari substansi agama terlepas dari sakralitas tersebut.
Menurut Abu Rabi’, ada empat aspek yang berguna dalam mengkaji Islam melalui pendekatan historis:[11]
1.      Islam menjadi salah satu problem filsafat dalam dunia modern.
2.      Teologi Islam mendapat bagiannya untuk dikaji dan diuji dalam pandangan sejarah kepercayaan bukan melalui metafisika atau malah teologi Islam.
3.      Islam bersumber dari al-Qur’an yang tidak lepas dari konteks turunnya yng di situ terdapat nilai budaya, nilai sosial, dan nilai kemanusiaan.
4.      Islam dapat disajikan sebagai fakta antropologis yang memiliki kemampuan pembentukan budaya baru pada masyarakat.

D.    Prosedur Penelitian Sejarah
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan historis, terdapat beberapa aspek yang harus difahami. Selain itu, ada pula tahapan-tahapan yang harus dilalui. Dalam hal ini, secara garis besar, terdapat lima aspek yang tidak dapat lepas sebagai Prosedur Penelitian Sejarah sebagaimana di bawah ini:[12]
1.      Pra Penelitian
Dalam tahap ini, hal yang perlu dilakukan adalah menentukan sasaran peelitian dan topik. Dari topic yang terpilih nantilah judul dapat ditentukan pula. Judul merupakan abstraksi dari topik yang di dalamnya mencakup unsur objek, subjek, lokasi, dan waktu. Judul yang dipilih nantinya akan menentukan alur lanjutan tahapan penelitian mulai dari latar belakang yang disertai rumusan masalah, signifikansi yang memuat tujuan dan kegunaan penelitian, peninjauan terhadap penelitian terdahulu, landasan teori sebagai acuan konsep dan pemikiran-pemikiran di dalam penelusuran data dan analisis sejarah, metode penelitian yang berisi langkah-langkah, jenis, sifat, dan sudut pandang penelitian, serta sistematika pembahasan yang berguna menjabarkan kerangka penyusunan penelitian.

2.      Pengumpulan Sumber Sejarah (Heuristic)
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan historis, sumber sejarah merupakan hal yang penting. Akurasi sumber sejarah sangat menentukan kekuatan hasil penelitian untuk menampakan fakta yang terjadi. Data sejarah bisa didapatkan dari banyak sumber seperti teks manuskrip, arsip, prasasti, benda-benda peninggalan, maupun informasi dari seseorang yang bersentuhan dengan informasi sejarah. Dalam pendekatan historis, hal yang tidak dapat diremehkan adalah keaslian informasi. Salah satu kesulitan yang biasa dialami adalah upaya mengungkap dan menggali informasi pada masa lampau yang memiliki jarak waktu yang terpaut jauh dengan saat pengumpulan sumber sejarah. Keterbatasan sumber terutama sumber tertulis bisa dibantu dengan sumber peninggalan-peninggalan dan prasasti yang bisa dibantu dengan arkeologi.
3.      Kritik terhadap Sumber Sejarah
Hal yang perlu diketahui adalah bahwa tidak semua tulisan atau paparan sejarah memiliki vliditas hal ini menjadikan kritik sumber sejarah merupakan aspek penting dalam penelitian historis. Tidak menutup kemungkinan bahwa sejarah ditulis adalah karena motif dan kepentingan tertentu. Tidak jarang alasan politik, ekonomi, dan berbagai hal lain menjadi alasan sejarah ditulis untuk memenuhi cita-cita maupun untuk menutupi sebuah aib individu maupun kelompok. Dari sini, tidaklah mengherankan jika terkadang dijumpai perbedaan versi dalam sejarah terutama dalam tulisan masing-masing kelompok yang memiliki perbedaan aliran.
Perbedaan versi dalam penulisan sejarah bisa dilihat dalam berbaga tulisan atas peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi. Pada revolusi Perancis tahun 1789 raja Louis ke-16 berkunjung ke Paris dengan menggunakan bendera berwarna tiga yakni merah, putih dan biru. Hal ini didukung oleh catatan harian Diknua, seorang anggota perwakilan rakyat jelata yang mencatat kedatangan raja disertai dengan membawa panji berwarna tiga. Berbeda dengan catatan Diknua, berdasarkan dokumen-dokumen resmi Perancis, terdapat kewajiban terhadap masyarakat yang masuk ke dalam anggota milisi untuk membawa bendera dua warna yakni merah dan biru. Gubernur Paris saat itu, Mouris, menyatakan bahwa Raja melewati paris pada 17 juli 1789 Paris membawa panji dua warna yakni merah dan biru. Selain itu, menurut duta besar Parma dan Genoa, Raja saat itu membawa bendera dua warna.[13]  
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan historis, terdapat dua kritik sumber sejarah, pertama adalah kritik eksternal dan kedua adalah kritik internal. Kritik eksternal merupakan sebuah pengupasan otentisitas sumber sejarah termasuk pencarian siapa, kapan, di mana sumber sejarah tersebut dibuat. Sedangkan kritik internal lebih mengacu pada isi dari sumber sejarah berupa informasi-informasi yang dibutuhkan dalam mengungkap peristiwa masa silam. Kritik internal bertujuan untuk mengungkap kredibilitas dan validitas, serta menyelami alam piker pengarang.[14] Isi informasi dalam sebuah sumber sejarah bisa dibandingkan dengan isi informasi pada sumberlainnya untuk menguatkan data maupun untuk tahu tentang kemungkinan adanya perbedaan informasi dari masing-masing sumber.
4.      Interpretasi Sejarah
Salah satu hal yang menentukan hasil pengungkapan fakta sejarah adalah aspek Interpretasi sejarah. Pada aspek ini, interpretasi terhadap sumber historis adalah berupa proses pemahaman dan menyusunan fakta sejarah. Dalam penyusunannya, peran sumber sejarah menjadi acuan validitas pengungkapan fakta sejarah, namun aspek subjektifitas peneliti tidak tertutup kemungkinan juga dapat mewarnai hasil dari pengungkapan fakta sejarah. Hal tersebut terjadi dikarenakan penggunaan teori dalam menganalisa sumber sejarah. Dari sini, peran penulis akan mewarnai kerangka, konseptual, dan kategorisasi dalam penulisan fakta sejarah.
Dalam interpretasi sejarah, terdapat beberapa model dan jenis interpretasi. Menurut kuntowijoyo, terdapat dua model interpretasi, pertama adalah analisis dan kedua adalah sintesis. Analisis berarti menguraikan dan sintesis berarti menyatukan.[15] Dalam hal ini, yang dimaksudkan adalah menguraikan data dengan penjabaran secara luas dan menyatukan suatu data sejarah dengan data-data sejarah yang lainnya untuk mengungkap suatu fakta sejarah. Selain itu juga terdapat dua jenis interpretasi, pertama adalah interpretasi monoistik dan kedua adalah interpretasi pluralistik interpretasi monoistik merupakan jenis interpretasi terhadap peristiwa besar dalam aspek tertentu, sedangkan interpretasi pluralistik secara lebih luas mengintegrasikan sejarah dengan lingkup aspek lainnya seperti sosial, budaya, ekonomi dll. Jenis kedua ini mengasumsikan bahwa sejarah tidaklah terlepas dalam menunjukan pola-pola peradaban yang bersifat multikompleks.[16] Menurut Kuntowijoyo, meski memiliki kedekatan, antara pendekatan historis dengan pendekatan sosiologis dapat dibedakan melalui hubungan diakronis dan singkronis. Pendekatan hstoris menggunakan hubungan diakronis sedangkan pendekatan sosiologis menggunakan hubungan singkronis.[17]
5.      Penulisan Sejarah
Penulisan Sejarah merupakan istilah yang biasa dipakai dalam penelitian sejarah. Karena mengacu pada data dan kritik terhadapnya, dalam penelitian historis dibutuhkan penulisan yang bisa mengkolaborasikan dua aspek dengan baik. Aspek tersebut adalah deskripsi dan analisis. Dua aspek ini merupakan corak dari penelitian historis yang di dalamnya selain terdapat pemaparan fakta yang bisa menggambarkan kejadian masa silam, juga terdapat pula bagaimana mencermati secara dalam atas fakta tersebut dari berbagai sudut pandang dengan melibatkan pemikiran.

E.     Kesimpulan
Dari hasil penelusuran berbagai hal tentang pendekatan historis, berikut merupakan kesimpulan makalah ini sebagaimana mengacu pada rumusan masalah di atas:
Pertama : sejarah sebagai sebuah pendekatan atau pendekatan historis tidak bisa terlepas dari kajian peristiwa yang melalui dimensi ruang dan waktu. pendekatan historis dalam penelitian terhadap gejala-gejala fenomena yang terjadi mengharuskan untuk mempertimbangkan beberapa aspek, di antara aspek tersebut adalah segi-segi prosessual, perubahan-perubahan, dan aspek diakronis. Lebih dari itu pendekatan historis tidak hanya digunakan untuk melihat pertumbuhan, perkembangan, dan kronologis peristiwa masa lampau, namun juga digunakan untuk mengenal gejala-gejala structural, faktor-faktor kausal, kondisional, kontekstual serta unsur-unsur yang merupakan komponen dan eksponen dari proses sejarah yang dikaji.
Kedua    : Secara lebih jauh, pendekatan historis dalam mengkaji agama tidak hanya digunakan untuk menelusuri peradaban dan kebudayaan yang bersinggungan dengannya namun juga menelusuri berkembangnya aktivitas keagamaan dari individu maupun kelompok keagamaan. Dari hal tersebut, pendekatan historis sangat berguna bahkan dalam membantu para sosiolog dalam mengetahui evolusi agama dan perkembangan tipologi kelompok agama.
Ketiga    : dalam prosedur penelitian historis, terdapat beberapa aspek yang menjadi acuan. Aspek-aspek tersebut adalah persiapan pra penelitian, pengumpulan data sejarah (heuristic), kritik terhadap sumber sejarah, interpretasi sejarah, dan penulisan sejarah.


Daftar Pustaka

Abdurahman, Dudung. (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan Multidisipliner (Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006).
Abdullah, Amin. Islamic Studiaes (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012) hlm. 52
Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam: teori dan Praktek (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 23.
Basri, Metodologi Penelitian Sejarah (Jakarta: Restu Agung, 2006), hlm. 76.
Chair, Tholhatul. dan Fanani, Alwan. (ed.), Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)
Gracia, Jorge J. E.. a Theory of Textuality: the Logic and Epistemology (New York: State University of New York Press, 1995).
Hasan Usman, terj. Muin Umar dkk. Metodologi Penelitian Sejarah (Jakarta: Departemen Agama RI, 1986)
Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003)
Rahman, Fazlur. “Pendekatan terhadap kajian Islam dalam Studi Agama” dalam Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dan Studi Agama (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2002).


[1] Lihat Fazlur Rahman, “Pendekatan terhadap kajian Islam dalam Studi Agama” dalam Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dan Studi Agama (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2002), hlm206.
[2] Jorge J. E. Gracia, a Theory of Textuality: the Logic and Epistemology (New York: State University of New York Press, 1995), 28.
[3] Dudung Abdurahman (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan Multidisipliner (Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006), hlm. 41.
[4] Amin Abdullah, Islamic Studiaes (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012) hlm. 52
[5] Dudung Abdurahman (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan Multidisipliner …, hlm. 40.
[6] Dudung Abdurahman (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan Multidisipliner …,  hlm. 42.
[7] Lihat Dudung Abdurahman (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan Multidisipliner …, hlm. 43.
[8] Lihat Dudung Abdurahman (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan Multidisipliner …, hlm. 46.
[9] Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam: teori dan Praktek (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 23.
[10] Lihat Dudung Abdurahman (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan Multidisipliner …, hlm. 49.

[11] Tholhatul Chair dan Alwan Fanani (ed.), Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 81-82.
[12] Lihat Dudung Abdurahman (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan Multidisipliner …, hlm. 50-54.
[13] Hasan Usman, terj. Muin Umar dkk. Metodologi Penelitian Sejarah (Jakarta: Departemen Agama RI, 1986), hlm. 162.
[14] Basri, Metodologi Penelitian Sejarah (Jakarta: Restu Agung, 2006), hlm. 76.
[15] Basri, Metodologi Penelitian Sejarah (Jakarta: Restu Agung, 2006), hlm. 78.
[16] Basri, Metodologi Penelitian Sejarah …, hlm. 79.
[17] Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. xii.

No comments:

Post a Comment