Tuesday, September 22, 2015

Gamelan Kiai Kanjeng Sebagai Fenomena Living Islam




tulisan ini dipersembahkan kepada :

Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, M.Ag




Disusun Oleh :

MUHAMMAD BARIR, S.Th.I

2015



A.    Pendahuluan
Sebagai penelitian living hadis, tulisan ini merupakan sebuah upaya dalam mengungkap nilai-nilai hadis yang hidup, diterima, dan dimaknai di tengah dakwah dan shalawat Kiai Kanjeng. Secara lebih jauh, penelitian ini yang mengandung nilai fenomenologis juga akan mencoba menelusuri gejala dan mengetahui makna dari shalawat dan dakwah kolaboratif Kiai Kanjeng yang memadukan elemen antar budaya yakni Islam, Jawa, dan unsur Modern dalam satuan musik allground Kiai Kanjeng. Sisi kebenaran emik penelitian ini akan dijadikan dasar dalam mendeskripsikan dakwah dan Shalawat Kiai kanjeng baik sejarah, proses, dan bagaimana fenomena tersebut dimaknai. Sehubungan dengan teori makna, menurut Karl Mannheim ada tiga makna yang akan sangat berpengaruh dalam sebuah fenomena. Untuk itu, ketiganya akan dijadikan acuan dalam memahami fenomena dakwah dan shalawat Kiai Kanjeng. Ketiga makna tersebut adalah makna objekti, ekspresif, dan dokumenter.[1]

B.      Sejarah Salawat
1.      Masa Nabi
Salawat yang saat ini masih membudaya dalam masyarakat Islam terutama masyarakat tradisionalis telah dikenal sejak zaman Nabi. Selain sebagai sunnah yang universal, salawat juga telah terkonfirmasi dalam hadis-hadis yang saat ini bisa kita dapatkan dalam kitab Sembilan. Dengan meninjau hadis mengenai salawat, beberapa hal krusial bisa terdeteksi seperti karakter dan bentuk murni shalawat pada masa Nabi yang tentunya telah jauh berbeda dengan apa yang menjadi kekhasan salawat saat ini yang telah mengalami banyak kolaborasi denagn beragam elemen lain. Berikut merupakan tinjauan hadis tentang salawat: 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ وَالْبِشْرُ يُرَى فِي وَجْهِهِ فَقَالَ إِنَّهُ جَاءَنِي جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَمَا يُرْضِيكَ يَا مُحَمَّدُ أَنْ لَا يُصَلِّيَ عَلَيْكَ أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِكَ إِلَّا صَلَّيْتُ عَلَيْهِ عَشْرًا وَلَا يُسَلِّمَ عَلَيْكَ أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِكَ إِلَّا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya : pada suatu hari Rasulullah Shalallah 'Alaihi Wa Sallam datang dengan wajah berseri-seri. Kemudian beliau bersabda: "Telah datang kepadaku malaikat Jibril, ia berkata kepadaku, "Wahai Muhammad, tidakkah kamu ridha seseorang bershalawat kepadamu kecuali Aku juga bershalawat kepadanya sepuluh kali. Juga tidak ada lagi seorangpun yang mengucapkan salam kepadamu kecuali Aku juga mengucapkan salam kepadanya sepuluh kali.[2]
Hadis mengenai shalawat yang popular adalah hadis yang menjelaskan sabab an-nuzul surat al-Ahzab (33): 56. Peristiwa turunnya ayat tersebut bermula dengan peristiwa pertemuan nabi dengan salah satu sahabatnya bernama Kaab bin Ujrah. Sahabat tersebut bertanya tentang bagaimana cara bersalawat sebagaimana menurut Nabi. Secara lebih jelas, berikut merupakan pertanyaan Kaab bin Ujrah kepada Nabi:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا السَّلَامُ عَلَيْكَ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ فَكَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Artinya : Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui salam kepadamu, lalu bagaimanakah caranya bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: "Ucapkanlah; allahumma shalli 'alaa muhammad wa 'alaa aali muhammad kamaa shallaita 'alaa aalii ibraahim innaka hamiidum majiid. allaahumma baarik 'alaa muhammad wa'alaa aali muhammad kamaa baarakta 'alaa 'aali ibrahiima innaka hamiidum majiid."
 Sebagaimana dijelaskan di atas, hadis ini sekaligus merupakan sebab turun dari surat al-ahzab ayat 56 yang artinya :           “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (al-Ahzab [33]: 56)”.
2.      Pasca Nabi
Shalawat kemudian berkembang menjadi sebuah bentuk kecintaan umat Islam ke pada Rasulullah SAW. Dengan kecintaan yang makin besar ini, bermuncullan lah berbagai macam shalawat seperti shalawat burdah karya al-Busyri yang nama lengkap beliau adalah Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Said Bin Hamad Ash-Shonhaji Al-Bushiri yang hidup antara tahun 608-696H /1212-1296 M. beliau besar di Dallas Maroco dan besar di Busyiri Mesir. Dalam kisahnya ia menulis shalawat sebagai bentuk kecintaannya adalah dalam keadaan lumpuh hingga suatu saat ia bermimpi berjumpa dengan Nabi SAW yang mengusap kedua kakinya hingga ia sembuh saat ketika bangun dari tidurnya.[3]

Hadis-hadis tentang shalawat
Berdasarkan enam kitab hadis, penjelasan shalawat bisa dijumpai dalam beberapa riwayat sebagaimana berikut:

Riwayat Bukhari no :
1402     3118     3119     4423     4424      5762     5853     5880     5881     5883     6833
Riwayat Muslim no :
577     609    610    612     613     614     615     616     1791     2175
Riwayat Abu Dawud  no :
393      396     439     457     472         568      578      826      827      829      830      831     832     883     1266            1307    1308    1310    1356    1746   3356     4511  
Riwayat Tirmidzi no :
267      289      302      441      445      446      447      448      541      948      1023    2381    3302     3398   3399            3468    3469    3493    3547
Riwayat Nasa’I no :
671      725      802       1054   1155     1156   1260     1262     1263     1264     1266     1267     1268     1269            1270     1271     1272  1273    1274     1275     1276      1277     1278     1279     1280     1281     1357     1701     1726     2768
Riwayat Ibnu Majah no :
394      889      892      893      894      895      896      897      898      985      989      995      1075     1181   1432            1489    1626    1627    1786

C.    Kiai Kanjeng

1.      Profil dan Sejarah
Riwayat Kiai Kanjeng tidaklah bisa pisahkan dengan sosok Cak Nun (Emha Ainun Najib), seorang budayawan kelahiran Jombang Jawa Timur 27 Mei 1953. Kiai Kanjeng yang saat itu dinamakan Padang mBulan mulai merilis album adalah dengan tajuk Kado Muhammad pada 1996. Sebuah album tentang nilai cinta rasul. Kemudian karakter Padang mBulan sedikit-demi sedikit berkembang tidak hanya sekedar group musik, namun juga sebagai wadah kontrol sosial dengan banyak menciptakan lagu dengan nuansa kritik sosial, kritik moral, dan kritik kebudayaan. Hal ini bisa dilihat ketika muncul tragedi orde baru 1998 dengan dirilis sebuah album berjudul Berhijrah dari Kegelapan. Setelah tragedi kerusuhan Mei 1998, cak Nun dan kawan-kawan membentuk suatu konsep yang kemudian menjadi forum rutin dengan ribuan jamaah, yakni Maiyah. Maiyah sering diartikan sebagai berkumpul dalam maksud mempersatukan masyarakat pasca perpecahan.[4] Baru-baru ini Maiyah juga ditafsirkan sebagai ma’iyyatullah, yakni kebersamaan bersama Allah.
Cak Nun (Emha Ainun Najib), yang menjadi motor Kiai Kanjeng[5]

Padamulanya, grup musik bentukan awal yang dirintis Cak Nun, Cak Fuad dan kawan-kawan lebih berada pada lingkup kecil hingga mulai berkiprah seiring gejolak sosial tahun 1990-an. Kiai Kanjeng era awal menjadi titik tolak Kiai Kanjeng saat ini. seiring berjalannya waktu dan dengan berbagai pengalaman, Kiai Kanjeng saat menjadi group musik yang memiliki mobilitas tinggi dan menjangkau hampir semua kalangan. Menghabiskan tur dari kota ke kota, dari Taman Ismail Marzuki Jakarta, di atas perahu sungai Nil di Mesir, hingga konser monumental di Roma dan Napoli Italia.
Grup musik yang pernah mendapatkan penghargaan dari Jenkin Wikins, direktur Studi-Studi Asia Tenggara (SOAS) ini memiliki karakter yang sedikit unik dan tidak sama dengan grup musik lainnya. Sebagaimana ideologi awalnya bahwa Kiai Kanjeng membuka diri untuk semua elemen, tidak terbatas baik kepada rakyat maupun para pejabat tinggi negara. Sebuah sistem dan pelantara yang baik hubungan antara rakyat dengan pemimpinnya.
Selain ideologi egaliter, ideologi Kiai Kanjeng lain yang tidak dapat dipisahkan dari Kiai Kanjeng adalah ideologi multikultural. Dalam beberapa kesempatan, Kiai Kanjeng sebagaimana yang terjadi pada tahun 2004, telah berinisiatif melakukan kenduri[6] cinta kaum muslim dengan komunitas agama lain. Salah satu tokoh yang hadir adalah Nathan Setiabudi (pendeta protestan, mantan ketua umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) dan Anand Krishna yang merupakan salah seorang pemimpin komunitas hindu.[7] Dari sini cukup menjelaskan bahwa Kiai Kanjeng tidak sekedar group musik, namun lebih dari itu telah terlembaga menjadi semacam organisasi masyarakat dengan memiliki banyak masa dan pengaruh baik seni, budaya, agama, dan sosial.
Kiai Kanjeng dan para biarawati menyanyi bersama dalam acara damai bersama keluarga[8]

2.      Pelaksanaan dan Proses Maiyah
Maiyah diadakan sebulan sekali di Kasihan Bantul Yogyakarta. Acara ini tidak hanya berperan sebagai panggung kesenian dan forum kegiatan diskusi saja, namun juga sangat berpengaruh pada perekonomian warga sekitar. Warga juga turut serta dengan keterlibatannya secara teknis dalam acara tersebut seperti sebagai keamanan, peñata panggug, dan membantu persiapan lainnya sebelum acara dimulai.
Tempat acara sendiri tidaklah jauh dari pertemuan ring road selatan dengan ring road barat. Setelah masuk ke Kasihan, akan dijumpai sebuah lapangan dengan pertigaan beringin. Dari sana belok kea rah kanan, maka sekitar 100 m dari lapangan akan dijumpai gapura kecil desa Turi. Di situlah lokasi maiyah tepat di halaman kediaman Emha Ainun Najib.
Logo Kiai Kanjeng[9]
Memasuki gapura kecil, ba’da isya’ sudah akan dapat terlihat mobil-mobil yang terparkir di selatan makam. Untuk sepeda motor, tidak kurang ada sekitar empat area parkir dengan jarak agak berjauhan memasuki gang-gang perumahan warga. Jika dilihat, prosesi Maiyah memiliki fungsi ekonomi, masyarakat biasa memanfaatkan lahannya sebagai area sewa parkir. Sebagian yang lain turut berjualan berbagai macam cindera matal, buku, dan jajanan. Beberapa di antaranya membuka warung angkringan, sebuah lapak warung dengan lampu kemuning khas jogja yang menjual aneka makanan bacem dan tentunya nasi bungkus yang sering disebut nasi kucing.
 Sejauh pengamatan penulis, Maiyah dimulai selepas Isya’ dengan pembacaan al-Qur’an (tadarrusan) bergilir yang dilakukan oleh beberapa anggota Kiai Kanjeng ataupun dilakukan oleh pengunjung secara umum. Setelah pembacaan selesai dilakukan, acara dibuka secara sederhana dan lebih bersifat santai oleh seorang MC yang diikuti dialog dengan diselingi canda-gurau maupun jajak pendapat dengan para peserta Maiyah.
Maiyah sendiri dilakukan sebulan sekali tiap tanggal 17 dengan tema beragam menyesuaikan dinamika politik, sosial, maupun budaya. Acara dilanjutkan dengan mempersilahkan tamu undangan tertentu yang biasanya diisi oleh kalangan politisi, budayawan, ulama, maupun artis dan seniman. Ada saat di tengah cak nun berada di pentas di mana lampu dimatikan, peserta diminta berdiri, dengan diiringi shalawat, dan para jamaah dengan khusyu’ dan hening diminta turut meresapi alunan musik. Menurut cak Nun, lampu dimatikan agar semuanya menjadi gelap sehingga yang akan menerangi kita saat itu adalah hati kita sendiri.[10]
Acara ini secara selang-seling diisi dengan diskusi, tanya-jawab, dan penampilan musik Kiai Kanjeng. Biasanya putra Emha, Sabrang atau yang dikeal dengan Noe juga ikut ambil nomor dengan mengisi lagu bersama band letto. Selain Sabrang, Istri (Novia Kolopaking) beserta putri Emha (hayya) juga turut melantunkan beberapa nomor. Beberapa pembicara yang biasa ikut menuangkan ide-idenya ialah Cak Fuad, Musthofa (ketua Nahdlatul Muhammadiyah), Cak Toto, Cak Muslim (vokalis Kiai Kanjeng), dan beberapa rekan Cak Nun lainnya turut ambil bagian secara bergiliran. Setelah itu diberikan waktu mikrofon digulirkan di tengah peserta agar siapa yang ingin bertanya dan berkeluh-kesah dapat mendapat kesempatan berbicara. Di tengah-tengah kegiatan tersebut juga diisi oleh puisi, laporan kegiatan jamaah Maiyah di beberapa tempat yang tersebar di berbagai daerah—meski cak Nun menyatakan Maiyah tidak pernah mengenal perwakilan cabang—. Laporan ini berupa pengalaman perkembangan komunitas di luar kota, kendala yang dihadapi, dan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai.

3.      Corak dan Genre
Gaya yang diterapkan oleh Kiai Kanjeng adalah perpaduan berbagai macam unsur instrument dari banyak kebudayaan mulai Jawa, Eropa, Timur Tengah, dan lain sebagainya yang pada dasarnya gaya semacam ini disebut dengan fusi.[11] Menurut Cak Imam Fatawi, vokalis asal Blora yang gabung Kiai Kanjeng mulai tahun 2000 ini, memang Kiyai Kanjeng bukan sekedar group Sholawat atau Gambus, tapi semua juga ada, dan lebih pada group yang menampung semua genre musik. Cak Imam lebih suka menyebutnya dengan bergaya allground komunitas Kiai Kanjeng.[12]
Dalam musik Kiyai Kanjeng, instrument yang paling terlihat berperan adalah instrument Jawa seperti bonang[13] dan gamelan. Dalam perkembangannya sendiri alat-alat tersebut sering diubungkan dengan dakwah Walisongo. Keterkaitan Kiai Kanjeng dengan Walisongo sebenarnya sangat terasa tak kala Cak Nun bersama Kiai Kanjeng menyajikan syair Lir-Ilir yang merupakan tembang gubahan Suanan Kalijogo dan juga Sunan Bonang. Lagu tersebut tidak sekedar dilantunkan, namun oleh Cak Nun turut ditafsiri.

D.    Kiai Kanjeng, antara Dakwah dan Kesenian
1.      Dakwah Inklusif (Sebuah Kolaborasi antara Seni, Dakwah, dan Kemanusiaan)
Pada dasarnya, Kiai Kanjeng tidaklah menyebut dirinya sebagai group dakwah, namun sebagai sebuah group yang lahir dari kultur Islami, Kiai Kanjeng menyiratkan pesan dan semboyan yang selalu dibawa oleh para kawan-kawan Maiyah dan personel Kiai Kanjeng untuk masyarakat luas. Hal tersebut pula yang seringkali menjiwai isi lantunan lagu, puisi, dan syair Kiai Kanjeng. Paling tidak menurut Cak Imam Fatawi ada empat hal yang ia rasakan selama bersama-sama dengan Kiai Kanjeng yang menurutnya, hal ini menjadi semangat tersendiri dalam menjiwai setiap pementasan. Keempatnya adalah kesatuan, kerukunan, keberagamaan, dan toleransi antar sesama[14]. Dengan pendapat ini, secara tidak langsung, poin ke tiga, yakni keberagamaan seolah menjadi melebur dengan poin yang lainnya, yang menunjukkan wajah Kiai Kanjeng yang inklusif dan dapat menyatu di mana pun, kapan pun dan dalam karakter masyarakat apa pun.
Bidang dakwah Kiai Knjeng yang melebur dengan jiwa kemayarakatan terlihat jelas dalam beberapa perhelatan sebagaimana panggung mempelopori penggalangan dana untuk korban tsunami Aceh. Hal tersebut menjadi salah satu yang menjadi poin penting dalam menyokong eksistensi Kiai Kanjeng. Dalam beberapa kesempatan, melihat karakter masyarakat dan situasi yang terjadi adalah sangat diutamakan. Cak Imam menyatakan bahwa Kiai Kanjeng bisa saja membuat lagu khusus untuk dipersembahkan bagi masyarakat yang akan didatangi. Biasanya lagu ini merupakan satu lagu dengan ritme panjang yang diaransement dan kumpulan dari beberapa lagu, ini biasanya disebut dengan medley.[15] 
Yang bisa menjadi cukup alasan kenapa Kiai Kanjeng begitu dekat dengan rakyat adalah nilai kesederhanaan dan nilai egaliter. Pada tahun 2011 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat itu, konsep acara yang dihelad di Gedung Multi Purpose dirubah sedemikian rupa, Emha dan Kiai Kanjeng tidak mau menaiki panggung gedung yang tinggi, namun lebih memilih menata panggung sendiri yang lebih rendah agar dapat duduk sejajar dengan kebanyakan mahasiswa yang menjadi audience. Nuansa seperti itu sering dijumpai di Maiyah. Kiai Kanjeng bisa begitu menanamkan nilai ideologinya dalam balutan lagu, setting tempat, dan setting acara.
Dakwah dengan gaya inklusif seperti ini, tidak hanya bisa menembus berbagai kalangan. Terdiri dari berbagai generasi, mulai kalangan orang tua, anak-anak, hingga pemuda-pemuda. Dalam acara rutin mocopat syafaat atau maiyah tiap tanggal 17 sendiri, kebanyakan pengunjung terdiri dari kalangan pemuda-pemudi yang rela begadang. Menurut salah seorang pengunjung, ia rela pulang pergi dari Magelang ke Bantul untuk mengikuti acara Maiyah adalah karena merasa banyak kebaikan dan ilmu dalam acara tersebut dan tidak terlihat mendakwahi. Ia merasa ini jalur yang baik di tengah banyaknya dakwah melalui jalur kekerasan dengan mengatas namakan agama. Yang pasti, dakwah kekerasan hanya akan membuat para objek dakwah lari.[16]
Dengan hidmat, Cak Imam Fatawi (Kiai Kanjeng) memimpin para jamaah membaca shalawat, serentak bersama-sama.[17]
2.      Kronik Dakwah Islam dalam Model Segitiga
Berbagai cara dapat dijadikan wadah bagi umat Islam dalam memilih jalan dakwahnya. Dakwah menurut Emha bisa dimaknai sebagai upaya “menyeru” jika itu diobjekkan kepada manusia, dan maknanya berubah menjadi berdo’a jika objeknya adalah kepada Tuhan.[18] Dakwah karena tujuan mengajak objek yang dipanggi untuk mendekat, maka dakwah harus bersifat persuasif dan dan bersahabat. Dakwah bagi umat Islam sendiri dianggap sebagai suatu titah Allah dan juga terepresentasi dalam hadis Nabi sebagaimana ucapan beliau:  "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat !”.[19] Selain hadis ini, al-Qur’an juga memuat beberapa poin penting dalam berdakwah, yakni QS. An-Nahl (16): 125 yang artinya “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan a) hikmah dan b) pelajaran yang baik dan c) bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
Karakter dakwah yang persuasif sebagaimana tertera dalam al-Qur’an di atas diperkuat lagi oleh suatu kisah tentang pesan Nabi kepada para da’i. ketika  Nabi hendak melepas beberapa sahabatnya untuk melakukan perjalanan dalam menjalankan misi dakwah, beliau mengutarakan beberapa patah kata sebagai pesan yang pesan ini dijadikan pedoman bagi para ulama yang berjuang di masyarakat hingga saat ini, pesan ini sebagaimana terdapat dalam jami’ash-shahih karya Imam Bukhari:
"Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ingin mengutus salah seorang sahabatnya atas suatu urusan, beliau berpesan: "Buatlah gembira dan jangan kalian buat lari, mudahkan dan jangan kalian buat sulit."[20]
Riwayat ini menjadi pedoman karakter dakwah Islam. Islam dalam dakwahnya tidak mengenal paksaan ataupun kekerasan. Rasul akan melepas para dai yang akan menyebarkan Islam maupun mengajarkan al-Qur’an ke berbagai negeri seperti bashrah, kuffah, negeri lain yang berada di sekitar luar madinah dengan dengan pesan agar dakwah Islam bisa diterima masyarakat dengan tanpa menjadi beban masyarakat. Bahkan Nabi juga mengisyaratkan agar dakwah dilakukan dengan cara yang dapat menarik hati masyarakat, bukan dengan cara yang membuat mereka lari menjauhi Islam وَلَا تُنَفِّرُوا.
Era setelah masa nabi menjadi era berkembangnya model dakwah. Banyak wadah kesenian yang diintegrasikan dengan dakwah baik, syair, musik, hingga tulis. Syair memiliki tempat tersendiri dalam pemeluk Islam kultural. Rata-rata berbentuk shalawat yang merepresentasikan kecintaan kepada Nabi. Para ulama’ dari berbagai dunia Islam banyak menulis karangan yang dihasilkan dari pengalamannya masing-masing. Salah satunya sebagaimana al-Busyri yang nama lengkapnya adalah Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Said Bin Hamad Ash-Shonhaji Al-Bushiri yang hidup antara tahun 608-696H /1212-1296 M. Ia lahir di Dallas Maroco dan besar di Busyiri Mesir. Dalam kisahnya ia menulis shalawat sebagai bentuk kecintaannya adalah dalam keadaan lumpuh hingga suatu saat ia bermimpi berjumpa dengan Nabi SAW yang mengusap kedua kakinya hingga ia sembuh saat ketika bangun dari tidurnya.[21]
Era nabi
 
Dalam dunia Islam Nusantara, Walisongo menggunakan kesenian seperti wayang dan tembang bisa dikaitkan dengan ucapan Nabi: “buatlah mereka bahagia..!,” dan setelah bahagia mulailah mereka dikenalkan dengan Islam. Slain itu, penjiwaan dalam seni dan dakwah memiliki nilai estetika, bahkan beberapa tokoh seperti ar-Rumi menciptakan tari sufi yang sangat kental dengan nuansa estetika kesenian. Kultur tradisi dakwah walisongo pada era lalu itulah yang terus berkembang. Lirik dan instrument keseniannya pun turut mengikuti kemajuan zaman. Bermula dari khazanah tradisi inilah lahir berbagai media-media dakwah yang salah satunya adalah Gamelan Kiai Kanjeng.
Era pasca Nabi
 
hadis Nabi tentang dakwah yang persuasif.[22]
Era Wali Songo
 
mucul kolaborasi dakwah dg kesenian dan sastra yang melahirkan berbagai macam shalawat
di nusantara abad ke-15 dan 16 dakwah berkembang melalui seni wayang dan gamelan
3.      Hadis dalam Syair-Syair Kiai Kanjeng
Hubungan antara hadis dengan Gamelan Kiai Kanjeng juga dapat ditarik dari posisinya dalam menjadi jiwa dan substansi lagu-lagu group ini. Salah satu album Kiai Kanjeng yang bertajuk Renungan Lir-ilir juga kental dengan semangat hadis. Renungan Lir-ilir merupakan bentuk tafsiran atas tembang gubahan sunan Kalijaga yang memuat ajaran spiritual. Berikut merupakan lirik lir-ilir dan tafsiran dari Kiai Kanjeng[23]:
Tembang Gubahan Lir-ilir
S. Ampel, Kalijaga, dan Bonang.
Tafsiran Renungan Lir-ilir





-Lir-ilir, lir-ilir
-Tandure wis sumilir
-Tak ijo royo-royo tak senggo temanten
anyar
Kanjeng sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur pada kita, tentang kita, tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri, namun tidak kunjung sanggup kita mengerti.  Sejak lima abad silam syair itu ia telah dilantunkan dan tidak ada jaminan sekarang kita sudah faham. Padahal kata-kata beliau itu telah mengeja kehidupan kita sendiri.
Alfa, Beta, Alif, Ba’, Ta’, kebingungan sejarah kita dari hari-ke hari. Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya terletak pada ketidaksanggupan para penghuninya untuk mengakui betapa kerusakanna itu sudah sedemikian tidak terperih, “menggeliatlah dari matimu…!” (tutur sang sunan). Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun!,  bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu, sungguh negeri ini adalah penggalan surga. Surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya, dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia raya.
Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan, tidak mungkin kau temukan mahluk tuhanmu kelaparan di tengah  hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini, bahkan bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai oleh negeri-negeri lain yang manapun. Tapi, kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini, kita telah memboroskan anugerah tuhan ini melalui cocok tanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan.
-Cah angon-cah angon penekno blimbing
kuwi
-Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh
dodotiro
Kajeng sunan tidak memilih figur misalnya “pak jendral… pak jendral…”, juga bukan intelektual-intelektual, ulama’-ulama’, seniman-seniman, sastrawan-sastrawan, atau apa pun, tetapi “Cah angon-cah angon,”[24] beliau juga menuturkan “penekno blimbing kuwi…!,” bukan, “penekno pelem kuwi,” bukan penekno sawo kuwi, bukan penekno buah yang lain, tapi belimbing bergigi lima. Terserah apa tafsirmu mengenai lima, yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu.
 lunyu-lunyu penekno,” agar belimbing bisa kita capai bersama-sama dan yang harus memanjat adalah bocah angon (bocah penggembala). Tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kiai, boleh seorang jenderal, atau siapapun. Namun ia harus memiliki daya angon, daya menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja. Sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan. Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.
Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini, sang bocah angon harus memanjatnya. Harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan, atau diperebutkan dan air sari pati belimbing lima gigir itu diperlukan oleh bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlaq, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya, berdirilah engkau di depan pasar dan copotlah pakaianmu, maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia, pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral, dan sistem nilai. System nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima.


Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing
pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo
mengko sore
Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak iyo/hore…
Satu tembang tidak selesai ditafsirkan dengan seribu jilid buku. Satu lantunan syair tidak selesai ditafsirkan dengan waktu seribu bulan dan seribu orang melakukannya. Aku ingin mengajakmu untuk  berkeliling, untuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dengan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing, agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita, apa muatan kalbu mereka mengenai lir-ilir?, mengenai ijo royo-royo?, mengenai kemanten anyar?, mengenai bocah angon dan blimbing?, mengenai mbasuh dodotiro?, mengenai kuminter bedah ing pingger?.
Yang akan kita bicarakan tentu saja kapan saja bersama-sama. Tapi aku ingin mengajakmu untuk mendengarkan siapa saja di antara saudara-saudara kita tanpa perlu melarang menjadi ini atau untuk menjadi itu, asalkan kita bersepakat bahwa bersama-sama mereka semua, kita akan menyumbangkan yang terbaik bagi semuanya, bukan hanya bagi ini atau itu, bukan hanya bagi yang di sini atau yang di sana.

Syair ini menurut Emha Ainun Najib, meski dilantunkan pada bebrapa abad silam namun tetap memiliki makna yang sampai sekarang tetap relevan. Salah satu konsep yang sempat disinggung dalam renungan Lir-ilir di atas adalah konsep kepemimpinan yang disimbolkan dengan sosok anak penggembala (ra’). Sosok penggembala dipilih karena mempunyai daya ngemong (mengasuh). Jadi pemimpin tidak hanya orang yang pintar ilmu keagamaan, kedokteran, kemiliteran, perekonomian, dan sebagainya, namun pemimpin adalah orang yang bisa merangkul  orang yang pintar ilmu keagamaan, kedokteran, kemiliteran, perekonomian, dan sebagainya.
E.     Pemaknaan Gamelan Kiai Kanjeng
Dengan demikian hadis menjadi salah satu unsure yang menjiwai dakwah kesenian Kiai Kanjeng. Mengenai makna, Terdapat tiga makna dakwah gamelan Kiai Kanjeng. Makna pertama ialah makna objektif bahwa Gamelan Kiai Kanjeng merupakan group musik yang menampilkan berbagai pementasan lagu dari berbagai macam genre yang dari sini menyebut dirinya sebagai group yang melantunkan musik all ground. Dalam makna ekspresifnya yang merupakan makna kedua, Kiai Kanjeng menjadi kekuatan bagi beberapa pemuda dalam memberikan pegangan intelektualitas dan spiritualitas. Selain itu Kiai Kanjeng juga telah menjadi bagian dari masyarakat dalam tradisi dan memberikan tambahan ekonomi di daerah Kasihan. Mengenai makna dokumenter, eksistensi Kiai Kanjeng didukung oleh kontekstualitasnya dalam bergerak membaca pergerakan zaman sehingga dapat terus menyesuaikan diri dalam memberikan kontrol sosial yang dijiwai empat hal yakni kesatuan, kerukunan, keberagamaan, dan toleransi antar sesama.
F.     Kesimpulan
Resepsi hermeneutis dari gamelan Kiai Kanjeng sebagai sebuah living hadis adalah argument dasar hadis nasa’i 1278 yakni “"Ucapkanlah; allahumma shalli 'alaa muhammad wa 'alaa aali Muhammad”. Hadis tersebut mendasari dakwah kiai kanjeng yang meski pada mulanya tidak menamakan dirinya sebagai group dakwah, namun masyarakat dan memang kebanyakan lagu kiai kanjeng adalah manifestasi dari tradisi Islam dengan banyak menggunakan lirik-lirik pujian kepada kanjeng Nabi.
Dalam resepsi kulturalnya, gagasan dakwah shalawat kiai kanjeng telah mengalami asimilasi budaya seiring rentang waktu yang berjalan. Sistem sosial dalam dakwah kiai kanjeng termanifestasikan melalui pagelaran seperti mocoat syafaat maiyah yang dilakukan rutin pada tanggal 17 tiap bulannya. Fenomena tersebut tidak hanya membangun tradisi di wlayah sekitar, namun juga membangun sistem sosial antara Kiai Kanjeng, masyarakat sekitar, dan jamaah dari berbagai penjuru. System artefak dari dakwah kiai Kanjeng bisa dilihat dari jurnal mocopat syafaat, dan berbagai tulisan di web dan media cetak lainnya yang lahir dari diskusi Kiai Kanjeng dalam berbagai forum.
Resepsi estetis dari dakwah Kiai Kanjeng bisa ditemukan dalam lirik lagu dan lantunan nada kiai kanjeng baik vocal maupun nada dari musik-musiknya yang dihasilkan dari berbagai macam instrument baik lokal maupun yang telah diadopsi dari Timur dan Barat. Ditengah berbagai instrument tersebut, nilai estetis lainnya yang juga sangat kental dalam Kiai Kanjeng adalah instrument Gamelan. Instrumen khas Jawa ini menjadi pionir sebagaimana juga dipakai oleh Kiai Kanjeng dalam logonya.

Daftar Pustaka
Gregory Baum, Agama dalam Bayang-bayang Relavitisme terj. Achmad Murtajib Chaeri (Sebuah Analisis Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim tentang Sintesa Kebenaran Historis-Normatif),.
Ian L. Betts, Jalan Sunyi Emha terj. Husodo (Jakarta: Kompas, 2006), hlm. 48.
www.caknun.com.
Agus Sunyoto, Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan (Jakarta: Transpustaka, 2011).
Jurnal Sabana: Maiyah, Sumur Ilmu, Sawah Nilai, Edisi 6, tahun II Februari 2015.
Maiyah 17 Februari 2015.
Maiyah 17 Maret 2015.
Bukhari, hadis no. 3202 (CD Lidwa Pustaka, 2010).
Nasa’I, hadist no – 1278 (CD Lidwa Pustaka, 2010).
--------,hadist no – 1278 (CD Lidwa Pustaka, 2010).
Maiyah, dokumentasi Adi TV tanggal 7 maret 2015.
Abu Dawud, hadis no. 4195 (CD Lidwa Pustaka, 2010).
Muhammad Rauf bin Minhad, Qasidah Burdah (Malaka: Madrasah Pengajian Al-Qur’an dan Fardhu ‘Ain Ustaz Haji Minhat bin Hashim, 2008)
Wawancara dengan Cak Imam Fatawi.
Muhammad Rauf bin Minhad, Qasidah Burdah (Malaka: Madrasah Pengajian Al-Qur’an dan Fardhu ‘Ain Ustaz Haji Minhat bin Hashim, 2008).


[1] Gregory Baum, Agama dalam Bayang-bayang Relavitisme (Sebuah Analisis Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim tentang Sintesa Kebenaran Historis-Normatif), terj. Achmad Murtajib Chaeri, hlm. 16.
[2] Nasa’I, hadist no – 1278 (CD Lidwa Pustaka, 2010).
[3] Muhammad Rauf bin Minhad, Qasidah Burdah (Malaka: Madrasah Pengajian Al-Qur’an dan Fardhu ‘Ain Ustaz Haji Minhat bin Hashim, 2008), hlm. 4.
[4] Ian L. Betts, Jalan Sunyi Emha terj. Husodo (Jakarta: Kompas, 2006), hlm. 48.
[5] Dokumen photo dalam www.caknun.com akses 17 Februari 2015.
[6] Kenduri diambil dari bahasa Persia (lihat. Agus Sunyoto, Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan [Jakarta: Transpustaka, 2011], hlm. 24) Kanduri yakni ritual yang dulu oleh masyarakat jawa dilakukan orang jawa yang memiliki hajat. Ritual ini berupa makan-makan dan diisi dengan doa atau jampi-jampi yang memiliki nilai sakral. Kenduru Cinta Emha yang terbungkus dalam Maiyah telah bertransformasi menjadi ritual dalam mendekatkan diri pada Allah dan Rasulnya.
[7] Ian L. Betts, Jalan Sunyi Emha terj. Husodo (Jakarta: Kompas, 2006), hlm. 52.
[8] www.caknun.com akses 17 Februari 2015.
[9] Lihat Sampul dalam Jurnal Sabana: Maiyah, Sumur Ilmu, Sawah Nilai, Edisi 6, tahun II Februari 2015. Sampul dalam.
[10] Ungkapan Emha Ainun Najib di atas pentas sekitar pkl. 23.00 di Kasihan Bantul dalam acara Maiyah 17 Februari 2015 dengan tema Kongres Masyarakat Meh-Islam.
[11] Ian L. Betts, Jalan Sunyi Emha terj. Husodo (Jakarta: Kompas, 2006), hlm. 47.
[12] Wawancara dengan Cak Imam Fatawi, melalui inbox facebook pada 26 Februari 2015 sekitar pukul 19:15.
[13] Kata “bonang” berasal dari suku kata “babon” dan “menang” yang dikumpulkan menjadi baboning kemenangan. Boneng sendiri merupakan alat musik yang dibuat dari bahan kuningan yang berbentuk bulat dengan tonjolan di tengah seperti gong kecil. Dari nama ini pula sunan Bonang atau raden Mahdum Ibrahim sering dikaitkan. Lihat Agus Sunyoto, Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan (Jakarta: Transpustaka, 2011), hlm.  136.
[14] Wawancara dengan Cak Imam Fatawi, melalui inbox facebook pada jum’at 27 Februari 2015 sekitar pukul 09:45.
[15] Wawancara dengan Cak Imam Fatawi, melalui inbox facebook pada jum’at 27 Februari 2015 sekitar pukul 09:45.
[16] Wawancara dengan mas Sigit, di Kasihan Bantul pada 17 Februari 2015 pada pukul 01:30.
[17] Dokumentasi pribadi cak Imam Fatawi.
[18] Disampaikan oleh Emha Ainun Najib dalam Maiyah, dokumentasi Adi TV tanggal 7 maret 2015.
[19] كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ أَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا  lihat: Bukhari, hadis no. 3202 (CD Lidwa Pustaka, 2010).
[20] Abu Dawud, hadis no. 4195 (CD Lidwa Pustaka, 2010).
[21] Muhammad Rauf bin Minhad, Qasidah Burdah (Malaka: Madrasah Pengajian Al-Qur’an dan Fardhu ‘Ain Ustaz Haji Minhat bin Hashim, 2008), hlm. 4.
[22] قَالَ بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا
[23] Agus Sunyoto, Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan (Jakarta: Transpustaka, 2011), hlm.  148.
[24] Kata ra’ bisa dimaknai dengan penggembala sebagaimana hadis Nabi:  Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad Al Marwazi berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah berkata, telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepada kami Salim bin 'Abdullah dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin." Al Laits menambahkan; Yunus berkata; Ruzaiq bin Hukaim menulis surat kepada Ibnu Syihab, dan pada saat itu aku bersamanya di Wadi Qura (pinggiran kota), "Apa pendapatmu jika aku mengumpulkan orang untuk shalat Jum'at?" -Saat itu Ruzaiq bertugas di suatu tempat dimana banyak jama'ah dari negeri Sudan dan yang lainnya, yaitu di negeri Ailah-. Maka Ibnu Syihab membalasnya dan aku mendengar dia memerintahkan (Ruzaiq) untuk mendirikan shalat Jum'at. Lalu mengabarkan bahwa Salim telah menceritakan kepadanya, bahwa 'Abdullah bin 'Umar berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin,( كُلُّكُمْ رَاعٍ) dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut." Aku menduga Ibnu 'Umar menyebutkan: "Dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta bapaknya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya." Bukhari, Jami’ ash-Shahih, hadis no. 844 (CD Lidwa Pustaka, 2010).

No comments:

Post a Comment