Tuesday, September 22, 2015

Lingkaran Kisah Imran, Zakaria, Maryam dan Isa dalam al-Qur’an dan Bible





(Dari Mihrab Zakariya hingga Perjalanan Pendeta Majusi dari Timur)

Makalah
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Studi Komparatif al-Qur’an dan Kitab Suci Agama-Agama

Dosen Pengampu :
Dr. Joko Prasetyo, AW. M.Th.




 






Disusun Oleh :


MUHAMMAD BARIR, S.Th.I
NIM 1420510012



KONSENTRASI STUDI AL-QUR’AN DAN HADIS
PROGRAM STUDI AGAMA DAN FILSAFAT
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA 
YOGYAKARTA
2014




A.    Latar Belakang

Yesus, yang dalam tradisi Islam dikanal dengan Nabi Isa AS, adalah sosok yang hadir dalam sejarah dua agama besar, yakni Kristen dan Islam. Kedua kitab suci agama tersebut sama-sama melukiskan sosok Yesus dengan versinya masing-masing. Banyak perbedaan cerita dan tokoh-tokoh utama dalam kisah Isa, sebagaimana sosok Yusuf yang dalam Matius 1: 19[1] digambarkan sebagai Suami Maryam dan Lukas 2: 33[2] yang menjelaskan bahwa Yusuf merupakan ayah Yesus. Sedangkan dalam al-Qur’an sendiri Marya dianggap seorang gadis yang belum menikah. Dengan perbedaan-perbedaan ini, tentunya sangat menarik untuk menyandingkan kedua kitab tersebut untuk mengetahui keluasan kandungannya masing-masing serta mencari titik temu dari perbedaan dan persamaan dalam penjelasan kisah-kisahnya.
Sebenarnya, menyandingkan antara al-Qur’an dengan Bible tidaklah tepat. Hal tersebut dikarenakan bagian al-Kitab yakni perjanjian baru (new testament) sebagaimana yang dipercayai oleh umat Kristiani bahwa wahyu bukanlah Bible, namun wahyu adalah apa yang termanifestasikan dalam segumpal darah dan daging, yakni sosok Kristus.[3] Namun, meski tidak cukup tepat, menyandingkan antara al-Qur’an dengan Bible adalah penting, sebab keduannya sama-sama hadir sebagai sesuatu yang diyakini merupakan Kitab Suci. Selain itu, kuduanya saat ini adalah salah satu peninggalan yang tersisa yang sampai pada kita dari masa di mana baik Islam maupun Kristen menyampaikan ajarannya pada umat kala itu.
Berangkat dari keterkaitan antara kedua Kitab tersebut, makalah ini merupakan ulasan studi komparatif dalam mencari argumentasi antar Bible dan al-Qur’an. Penulis mempersempit pembahasan dengan mengajukan tema kisah Isa sebagai fokus kajian. Sosok ini menarik karena menempati tokoh sentral dalam mewarnai perdebatan antara dua agama besar yakni Islam dan Kristen. Berangakat dari hal ini, berikut merupakan rumusan masalah sebagai acuan dasar makalah yang penulsi rangkai: 1. Bagaimana Posisi al-Qur’an dengan Bible, 2. Bagaimana kisah kelahiran Isa AS dalam perspektif Bible?, 2. Bagaimana kisah kelahiran Isa AS dalam perspektif al-Qur’an?, 3. Bagaimana keterkaitan antara kedua Kitab dalam mengulas kisah kelahiran Isa?




B.    Posisi al-Qur’an dengan Bible

Umat Islam menempatkan al-Qur’an sebagai kitab sakral (par excellence), qadim, dan suci. Penafsiran terhadapnya diperketat dengan syarat-syarat yang telah dibakukan oleh kesepakatan ulama. Hal tersebut tidak terjadi pada Bible. Kitab ini diterima dan disadari oleh umat kristiani sebagai karya yang ditulis. Lima kitab (Pentateuch) dapat ditafsiri dan diterjemah ke dalam berbagai bahasa dengan kaidah yang lebih longgar, sebuah kebebasan yang tidak sulit ditemukan dalam sejarah al-Qur’an. Bible bisa dikatakan lebih dekat pada mobilitas zaman dan lebih kontekstual. Dengan masing-masing kelemahan dan keunggulan ini, baik al-Qur’an dan Bible keduanya menjadi salah satu rujukan dalam hokum, keshalehan (piety), dan ibadah (liturgy).

C.     Kelahiran Yesus dalam Bible

1.      Tempat, Waktu, dan Lingkungan Kelahiran
Ada beberapa perbedaan keterangan dalam bible mengenai lingkungan kelahiran Yesus, hal ini sebagaimana dalam Lukas yang berbeda dengan Matius. Dalam perjanjian baru (New Testament) Lukas 2:1-20, Yesus dilahirkan saat dilakukan pendataan penduduk oleh kaisar Augustus (27 SM – 14 M) di wilayah Syiria dan Palestina sekitar tahun 7 M. Sedangkan dalam Matius, dijelaskan bahwa Yesus dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Herodes agung (37-4 SM) yang merupakan ayah dari Kaisar Herodes Archelous yang wafat pada tahun 4 SM.[4] 
Mengenai tempat kelahirannya, dalam Matius 2 : 1[5], di jelaskan bahwa Baitullahmi (Betlehem) merupakan saksi di mana yesus bayi lahir. Tempat ini berada pada jarak 10 kilometer kea rah Selatan kota Yarusalem. Menurut Syauki Abu Khalil, kota kelahiran Yesus berdekatan dengan kota Elia (Baitul Maqdis) dan saat ini wilayah ini dikenal sebagai tempat industri ash-Shadafiyyah distrik at-Tahriz. Kelahiran Yesus ternyata telah diketaui dalam ramalan pendeta Majusi. Dalam Lukas 2 : 1-12 terdapat penjelasan tentang kisah beberapa pendeta Majusi dari Timur yang menuju Yarusalem. Saat itu mereka bertanya dari satu orang ke orang lain : “di manakah Anak itu, yang lahir untuk menjadi raja orang Yahudi? Kami melihat bintang-Nya terbit di sebelah timur, dan kami datang untuk menyembah Dia”.[6] Dari penjelasan tersebut, ada dua hal yang menggambarkan sosok yang akan lahir yang dinanti-nanti oleh pendeta Yahudi. Yesus di ramamalkan datang sebagai raja orang Yahudi, pertama adalah sosok ini nanti akan menjadi raja dan kedua sosok ini nanti akan menjadi sesembahan mereka (worship).
Dengan kedatangan para pendeta majusi ini, penduduk Yarusalem sepontan terkejut dan bahkan berita ini sampai pada telinga raja Herodes yang kemudian menyuruh semua imam kepala dan guru-guru agama bangsa Yahudi datang berkumpul. Lalu ia bertanya kepada mereka, "Di manakah akan lahir Raja yang dijanjikan Allah?".[7]  Sesudah mendapat keterangan itu, Herodes memanggil ahli-ahli bintang dari Timur itu secara diam-diam. Lalu ia bertanya kepada mereka kapan tepatnya bintang itu mulai kelihatan. Sesudah itu ia menyuruh mereka ke Betlehem dengan pesan ini, "Pergilah, carilah Anak itu dengan teliti. Dan kalau kalian menemukan Dia, beritahukanlah kepadaku, supaya aku juga pergi menyembah Dia." Lalu pergilah mereka. Mereka melihat lagi bintang yang mereka lihat dahulu di sebelah timur. Alangkah gembiranya mereka melihat bintang itu! Bintang itu mendahului mereka, lalu berhenti tepat di atas tempat Anak itu. Mereka masuk ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu dengan Maria, ibu-Nya. Mereka sujud dan menyembah Anak itu, lalu membuka tempat harta mereka, dan mempersembahkan kepada-Nya emas, kemenyan, dan mur. Karena mencium bau muslihat raja Herodes melalui mimpi, mereka akhirnya tidak melapor apa yang mereka temukan dan pulang melalui jalan lain.[8]
2.      Kontroversi Hari Kelahiran Yesus
Mengenai tanggal kelahiran Yesus, umat Kristiani biasa memperingatinya pada tanggal 25 Desemer. Penetapan hal ini ialah berdasarkan keputusan Pau Libertus yang disahkan oleh kaisar Konstantin pada sekitar tahun 325-354 M.[9] sedangkan dalam keterangan lain disebutkan bahwa ebenarnya kelahiran Yesus tidaklah pada bulan Desember namun pada bulan Elul (bulan Yahudi) yang bertepatan pada tanggal Agustus-September. selain itu musim dingin pada bulan desember bukanlah hari dimana buah kurma masak dan gembala-gembala bisa bebas merumput sebab bulan ini merupakan musim dingin dan bahkan sering turun salju. Hal-hal tersebut menunjukan ada perbedaan dengan penjelasan dalam Bible yang menyatakan bahwa hari kelahiran Yesus merupakan hari di mana gembala-gembala berkeliaran dan musafir. Selain itu dalam beberapa pernyataan—meski kurang tepat—pemilihan bulan 25 Desember sebagai hari Natal sering dikaitkan dengan kelahiran dewa matahari Sedangkan dalam al-Qur’an hari kelahiran Isa ditunjukan dengan kematangan pohon kurma sedangkan bulan desember bukanlah musim pohon kurma matang.

D.    Kelahiran Isa AS dalam al-Qur’an

1.      Kontroversi al-Qur’an sebagai Kitab Sejarah
Ada perbedaan versi antara al-Qur’an dengan Bible dalam menjelaskan silsilah Isa AS. Dalam al-Qur’an Imran digambarkan merupakan sosok ayah dari Maryam (ibunda Isa AS). Hal ini tentu saja bertentangan dengan penjelasan dari Perjanjian Baru 26 ayat 59, bahwa Imran merupakan ayah dari Musa dan Harun yang keduanya merupakan Nabi jauh sebelum Isa Lahir. Sedangkan Maryam sendiri adalah saudara dari keduanya. Hal ini juga disinggung dalam perjanjian lama surat 15 ayat 20 bahwa maryam adalah saudara perempuan Harun.
Muhammad bin Ishak sebagaimana disadur oleh Ibn Katsir menyatakan bahwa kita bisa mengetahui silsilah Maryam berdasarkan namanya yakni Maryam bin Imran bin Basyim bin Amon bin Manasye bin Hizkia bin Anas bin Yotam bin Azarya bin Amazia bin Yoas bin Ahazia bin Yoram bin Yosafat bin Asa bin Abia bin Rehabeam bin Sulaiman bin Daud. Sedangkan nabi Zakaria merupakan suami dari bibik Maryam yang bernama Asya.[10] 
Lalu yang menjadi pertanyaan dalam perbandingan ini adalah masa hidup Nabi Musa sekitar 1527 hingga 1407 SM[11] berpautan teramat jauh dengan kelahiran Isa AS. Dengan perbedaan yang teramat jauh ini pula, mengakibatkan beberapa cendekia muslim seperti Muhammad Ahmad Khalafullah lebih mengusulkan aliran dekonstruksionis dalam melihat fenomena kisah dalam al-Qur’an dengan penggunaan pendekatan sastra.[12]

2.      Maria, Seorang Gadis Perawan
Mengenai Yusuf (Joseph), apa yang dijelaskan dalam al-Qur’an sangat berbeda dengan penjelasan dalam Two Gospel. Sebagaimana dalam Matius 1: 19[13] yang menyatakan bahwa Yusuf adalah Suami Maryam dan Lukas 2: 33[14] yang menjelaskan bahwa Yusuf merupakan ayah Yesus. Hal tersebut tentunya versi yang sangat berbeda dengan apa yang akan ditemui dalam Al-Qur’an yang menganggab Maryam merupakan gadis yang menjaga kesuciannya dan juga seseorang yang sangat taat terhadap Tuhannya dengan tenpa memiliki suami.[15] Dalam arti, al-Qur’an menjelaskan Isa lahir tanpa ayah, sebuah hal yang saat ini tidak dapat dijangkau oleh logika.
Bermula dari kisah Istri Imran yang merupakan nenek Isa AS, beliau saat usia lanjut belum juga dianugerahi keturunan. Suatu ketika ia melihat kasih sayang seekor burung yang sedang memberimakan anaknya makanan. Hal tersebut mengakibatkan ia sangat ingin sekali memiliki anak.[16] Ia pun berdoa dan bernazar jikalau ia dianugerahi seorang anak, maka anak tersebut akan diserahkan ke Baitul Maqdis dan menjadi pemelihara tempat suci tersebut. Doa Imran akhirnya terkabul dengan lahirnya seorang puteri yang diberi nama Maryam yang disebut juga Mary, Maria.
Sebagaimana apa yang menjadi nazar Imran, Maria pun akhirnya diserahkan kepada pihak Baitul Maqdis yang saat itu dipimpin oleh saudara sepupunya yang bernama Zakaria. Selama berada dalam asuhan Zakaria,  Maryam tumbuh sehat, cerdas, dan bersikap penuh bakti kepada Allah. Dan hal yang menjadi keanehan adalah, Maryam selalu mendapatkan buah dari mihrab yang entah darimanadatangnya buah tersebut.
Apa yang terjadi pada Maryam tersebut dipaparkan dalam surat Ali Imran 3: 37:
Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.
Sebagaimana penjelasan di atas, al-Qur’an menggunakan istilah Mihrab. Kata tersebut bisa memiliki berbagaimakna yang salah satunya adalah gedung tinggi. Bisa juga bermakna lubang tidak tembus (niche) sebagaimana pada kuil-kuil Mithraistik. Mihrab juga berasal dari kata Harb yang berarti perang sehingga mihrab sering dimaknai sebagai tempat memerangi hawa nafsu dan setan. Menurut Merriam Webster, mihrab merupakan cekungan pada masjid sebagai penunjuk arah kiblat. Definisi lain tentang mihrab dikemukakan oleh Taqiyyuddin al-Hilali dan Muhammad Muhsin Khan yang menyatakan bahwa mihrab adalah ruang shalat kecil atau ruang privasi, bukan sebagai penunjuk arah kiblat. Menurut Ibnu Katsir, mihrab bukanlah tempat imam sebagaimana pada masjid-masjid sat ini, namun merupakan ruang utama ibadah sebelum kedatangan Islam.
Mengenai kata Mihrab Pada perkembangannya, kata tersebut diadopsi oleh Pemerintahan Islam dan dibangun di masjid nabawi adalah pada tahun 88 H yang bertepatan dengan 708 M oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hingga sekarang, mihrab di Masjid Nabawi berjumlah empat buah, yakni mihrab Nabi Muhammad SAW yang terletak di bagian raudlah, mihrab Usmani, mihrab Hanafi (Sulaimani), dan mihrab Tahajjud yang terletak di belakang kamar Fatimah as-ahra[17]
Maryam tumbuh dewasa dan melalui rahimnyalah Isa AS lahir ke dunia. Mengenai kisah kelahiran ini, versi al-Qur’an sedikit berbeda dengan apa yang diketahui dalam cerita umat kristiani bahwa kelahiran Isa berlangsung di kandang domba. Sebaliknya, al-Qur’an menyatakan Isa al-Masih lahir di sebelah pohon kurma. Hal ini sebagaimana penjelasan dalam surat Maryam 19: 23-26:
“23. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan’. 24. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. 25. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. 26. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini’.”[18]

E.     Keterkaitan antara Kedua Kitab dalam Mengulas Kisah Kelairan Isa

Tulisan ini tidak untuk mempersilangkan pendapat, namun lebih pada menyandingkan argumentasi antara al-Qur’an dengan Bible dalam menyusun kisah kelahiran Isa berdasarkan dua perspektif. Sebagaimana pendapat Muhammad Ahamad Khalafullah, bahwa kisah dalam al-Qur’an lebih bersifat gambaran global, hal ini berbeda dengan kisah dalam Bible yang lebih rinci. Selain itu gambaran kisah dalam al-Qur’an mengarah pada aspek kemukjizatan baik yang ditunjukan oleh Maryam, Zakaria, Maupun, Isa.
Kisah kemukjizatan di antara Maryam, Zakaria, Maupun Isa ini sebagaimana dalam Ali Imran 42-51. Dalam surat ini dijelaskan bahwa ketika Maryam sudah selesai disusui hingga cukup usia dan akan diserahkan pada pihak Baitul Maqdis, terjadi perselisihan antara beberapa Pemuka Baitul Maqdis tentang siapa yang paling berhak mengasuh Maryam. Dan saat itulah Zakaria berniat membawa Maryam secara diam-diam sebelum akirnya diketahui oleh mereka. Akirnya Zakaria diharuskan mengikuti undian dengan para pemuka Baitul Maqdis lainnya dengan mengumpulkan pena dan diundi dengan menyuruh anak kecil memilih di antara para pena mereka. Akhirnya pena yang terpilih adalah milik Zakaria. Merasa tidak puas, para pendeta mengundi ulang dengan melemparkan ke sungai pena-pena tersebut dan memutuskan pemenang adalah pemilik pena yang melawan arus. Kemudian pena Zakaria lah yang menang dan terakhir mereka mengundi kembali karena tidak merasa puas dengan memutuskan pemenang adalah pemilik pena yang mengikuti arus, maka dalam undian terakhir ini pula Zakaria menjadi pemenangnya.[19]
Maryam juga memiliki kemampuan yang diberikan Allah dalam mendatangkan buah-buahan yang tidak pada musimnya. Zakaria sering menemui Maryam dengan buah-buahan musim panas padahal saat itu sedang musim dingin. Begitu juga sebaliknya, Maryam sering mendapat buah-buahan yang hanya didapatkan pada musim dingina padahal saat itu sedang musim panas. Maryam juga diberikan karunia oleh Allah dalam mendapatkan buah kurma dan air sungai ketika masa beratnya dalam proses melahirkan Isa. Sewaktu masih dalam buaian, Isa AS pun telah berbicara.
Hal-hal di atas menjelaskan bahwa karakter al-Qur’an lebih mengarah kepada bukti-bukti yang diberikan Allah berupa kisah yang metarasional. Mulai penjelasan teradap kemukjizatan dan kemampuan metafisik, kemudian diikuti oleh perintah menyembah Allah. Dalam sisi lain, Bible dalam kisah Yesus lebih mengarahkan isi pembahasannya pada realitas sosial, politik, dan kemanusiaan. Poin-poin tersebut merupakan mayoritas isi yang dibicarakan dan kisah-kisah metafisik memiliki porsi yang lebih sedikit disbanding dengan al-Qur’an. Banyak aspek spesifik yang dibicarakan dalam Bible bahkan mengenai tokoh dan tempat padahal Al-Qur’an biasanya jarang sekali menyebut tokoh dan tempat. Hal tersebut sebagaimana penyebutan raja Herodes, Betlehem dan tempat-tempat lainnya. Kisah dibiarkan untuk disajikan secara lebih mengalir dalam hal isi, berbeda dengan al-Qur’an yang mengaitkan kisah tertentu dengan kisah-kisah lainnya dan disusun secara sastrawi mengikuti sajak-sajak dengan kesamaan irama akhiran ayat-ayatnya.

F.     Kesimpulan

Apa yang menjadi perbedaan antara keduanya ini sekali lagi merupakan kelebihan masing-masing antara al-Qur’an dan al-Kitab. Ada tiga hal yang menjadi kesimpulan dalam makalah ini:
1.      Kisah dalam al-Kitab dari segi isi lebih bersifat spesifik dengan penyebutan tempat dan tokoh yang dibicarakan dan dalam hal karakter penulisan lebih mengalir sebagaimana penulisan sejarah.
2.      Al-Qur’an lebih berbicara mengenai Isa secara global dan aspek yang disentuh adalah ketauhidan dengan pembahasan mu’jizat dan keesaan Allah, bahasa yang dipakai oleh al-Qur’an lebih mengarah pada aspek sastra dengan rima akhiran yang berkesesuaian antar masing-masing ayat.
3.      Baik al-Qur’an maupun Bible keduanya memiliki kelebihan masing-masing sebagaimana berikut:
no
Aspek
Al-Qur’an
Bible
1
Isi
Isi lebih global
Isi lebih spesifik dan mendetail
2
Bahasa
Bahasa sastra
Bahasa penulisan sejarah
3
Mayoritas Pembahasan
Tauhid dan Kemu’jizatan
Aspek realitas historis dan sosial

G.    Daftar Pustaka

Geoffrey Parrinder, Jesus in The Qur’an (Oxford: Oneworld Oxford, 1996)
Ibn Katsir, Kisah Para Nabi terj. Dudi Rasyadi (Jakarta: Kautsar, 2011).
Muhammad Ahmad Khalafullah, al-Qur’an Bukan Kitab Sejarah Terj. Zuhairi Misrawi dan Anis Maftuhin (Jakarta: Paramadina, 2002).
Syahruddin el-Fikri, Situs-Situs dalam al-Qur’an: Dari Banjir Nuh Hingga Bukit Thursina (Jakarta: Republika, 2010).
Wilfred Cantwell Smith, Kitab Suci Agama-Agama (Jakarta: Teraju, 2005).
Al-Kitab Online Bahasa Indonesia http://www.jesoes.com  
Al-Qur’an al-Karim (Bandung: Diponegoro, 2002)



[1] “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.”
[2] “Ayah dan ibu Anak itu heran mendengar apa yang dikatakan Simeon tentang Anak mereka.”
[3] Wilfred Cantwell Smith, Kitab Suci Agama-Agama (Jakarta: Teraju, 2005), hlm. 76.
[4] Syahruddin el-Fikri, Situs-Situs dalam al-Qur’an: Dari Banjir Nuh Hingga Bukit Thursina (Jakarta: Republika, 2010), hlm. 78.
[5] Matius 2 : 1
[6] Lukas 2: 2
[7] Lukas 2: 4
[8] Lukas 2: 7-12
[9] Syahruddin el-Fikri, Situs-Situs dalam al-Qur’an: Dari Banjir Nuh Hingga Bukit Thursina (Jakarta: Republika, 2010), hlm. 83.
[10] Ibn Katsir, Kisah Para Nabi terj. Dudi Rasyadi (Jakarta:, 2011), hlm. 930.
[11] Syahruddin el-Fikri, Situs-Situs dalam al-Qur’an: Dari Banjir Nuh Hingga Bukit Thursina (Jakarta: Republika, 2010), hlm. 37.
[12] Muhammad Ahmad Khalafullah, al-Qur’an Bukan Kitab Sejarah Terj. Zuhairi Misrawi dan Anis Maftuhin (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm. 30.
[13] “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.”
[14] “Ayah dan ibu Anak itu heran mendengar apa yang dikatakan Simeon tentang Anak mereka.”
[15] Geoffrey Parrinder, Jesus in The Qur’an (Oxford: Oneworld Oxford, 1996), hlm. 23.
[16] Ibn Katsir, Kisah Para Nabi terj. Dudi Rasyadi (Jakarta:, 2011), hlm. 930.
[17] Syahruddin el-Fikri, Situs-Situs dalam al-Qur’an: Dari Banjir Nuh Hingga Bukit Thursina (Jakarta: Republika, 2010), hlm. 37.
[18] QS Maryam 19 : 23-26
[19] Ibn Katsir, Kisah Para Nabi terj. Dudi Rasyadi (Jakarta: Kautsar, 2011), hlm. 936.

1 comment:

  1. Salam, Jika pada Injil Matius mengatakan bahwa Maria bersuamikan Yusuf, lalu Yusuf menyetubuhi Maria setelah kelahiran Yesus maka apakah masih layak disebut "Virgin Mary". Lalu jika Yesus lahir tatkala Maria mempunyai suami dan sebelumnya bertunangan bukankah dalam pandangan orang lain kala itu adalah hal yang wajar??, apalagi dalam Injil Lukas dituliskan Yusuf adalah ayahnya Yesus lalu mengapa umat Nasrani masih mengatakan Yesus anak tuhan, kenapa ini bertentangan dengan kenyakinan mereka Yesus lahir tanpa Ayah, apakah berita di Injil ini benar?? atau kenapa mereka tidak merevisi Injil padahal menurut mereka kitab Injil adalah karya yang ditulis bukan par excellence atau ... ?? lalu dimanakah letak kesucian Maria jika masih mempunyai nafsu syahwat sehingga berkeinginan bertunangan lalu bersuamikan Yusuf??. Wassalam.

    ReplyDelete