Tuesday, September 22, 2015

Pemikiran Hadis Ibnu Sholah





Dipersembahkan kepada :



Prof. Dr. Suryadi, M.Ag

 Oleh :


MUHAMMAD BARIR, S.Th.I

YOGYAKARTA
2014



A.    Latar Belakang
Apa yang dicapai oleh ahli h}adis kontemporer tidak dapat terlepas dari peran ulama klasik yang membangun fondasi ilmu ini. Banyak tokoh yang berjasa seperti Naisabu>ri>, Romahurmuzi dan lain sebagainya termasuk juga tokoh yang mewarnai abad ke VI hijriyah yakni Ibn S{ala>h}. Mengkaji kembali sosok-sosok tersebut tidak hanya akan memperkuat tradisi (turos|) kajian hadis namun juga sangat bermanfaat dalam memberikan pandangan tentang alur perkembangan hadis dari masa-ke masa.
Saat ini, kajian ‘Ulu>m al-H{adi>s| kian hari-kian berkurang terutama bagi kalangan sarjana Muslim Indonesia. Dalam beberapa hal, Orientalis dalam beberapa aspek dapat dikatakan lebih memiliki keprihatinan terhadap kajian ilmu tersebut dibanding dengan orang Islam sendiri—katakanalah seperti G.H.A. Juynboll, Joseph Schacht, dan Harald Motzki—. Keprihatinan dan keseriusan Barat tersebut dapat tercermin dari berbagai pengembangan yang coba terus ditingkatkan baik dalam dunia akademis hingga dunia teknologi.
Tulisan ini merupakan sedikit upaya untuk merangsang kembali pembahasan kerangka awal diletakkanya ilmu hadis dengan menengok semangat ulama’ terdahulu dalam meletakkan dasar-dasar metodologi kajian ilmu hadis. Hal ini perlu dilakukan untuk kembali memberikan stimulus terhadap sarjana muslim untuk terbangun dan mulai mengejar tradisi keilmuan komprehensif Barat yang juga mempelajari Hadis mulai dari masa awal kodifikasi tidak hanya dari sisi normatif, namun juga dari sisi historis tentang pengarang, konteks sosial, dan kondisi politik dan lain sebagainya yang mempengaruhi penulisan dan pegembangan ilmu hadis.    
Ada tiga aspek yang penulis anggap cukup mewakili dalam mengkaji sosok Ibn S{a>lah dan keilmuannya pada kesempatan kali ini, pertama adalah lingkungan yang membangun keilmuan Ibn S{a>lah{ yang dapat dilihat dari biografi beliau, karya beliau, dan pemikiran-pemikiran yang muncul dalam kitab karya beliau. Untuk lebih jauh mengungkap pemikiran dan peran Ibn S{a>lah{ maka berikut merupakan bebrapa rumusan masalah yang muncul sebagai kerangka acuan pada tulisan sederhana ini:
1.      Bagaimana Biografi Ibn S{a>lah{?
2.      Bagaimana deskripsi kitab karya Ibn S{a>lah{?
3.      Bagaimana pemikiran Ibn S{a>lah{ yang tertuang dalam karyanya?

B.     Biografi Ibn S{a>lah{
Nama lengkap beliau adalah Us|ma>n bin Abd ar-Rah{ma>n bin Us|ma>n bin S{ala>h ad-Di>n bin Taqiyy ad-Di>n  bin Abu> ‘Amr al-Kurdi asy-Syahrazu>ri an-Nas{ri asy-Syarkha>ni al-Faqi>h asy-Sya>fi’i. Meski sedemikian panjang nama kuniahnya, akan tetapi beliau lebih dikenal dengan panggilan Ibn S{a>lah{.[1] Selain dengan nama tersebut, beliau juga kerap dipanggil dengan nama Taqiy ad-Di>n dan Abu> ‘Amr.[2]
 Ibn S{a>lah{ lahir di Syarkha>n pada tahun 577 H. yang bertepatan dengan tahun 1181 M[3] sebagaimana tertera pada halaman sampul kitab Muqaddimah Fi ‘Ulu>m al-H{adi>s|,  namun dalam beberapa keterangan, tahun lahir beliau juga diperkirakan ialah pada tahun 557 H atau 1161 M.[4] Mengenai tempat kelahiran di atas, Syarkha>n merupakan wilayah kota Arbil, salah satu kota besar di negeri Irak bagian utara yang didominasi oleh suku Kurdi. Tepatnya di desa Shahrazur. Nama desa inilah nantinya turut menjadi nama belakang  Ibn S{a>lah.
Ibn S{a>lah{ hidup dan besar ialah berada di tengah keluarga yang sangat berpegang teguh pada Islam. Ia mempelajari banyak ilmu tradisi islam adalah dari ayah kandungnya yang bernama Abdur Rahman yang merupakan ulama pada masanya. Selain belajar pada ayahandanya Ibn S{a>lah{ juga belajar pada beberapa ulama lain yakni:
a)      Abi> al-Mud{affar bin Sam’a>ni
b)      ‘Abd as-Samad
c)      Maufiq ad-Di>n al-Muqaddasi
d)     Ibn ‘Asa>kir
Merasa apa yang ia pelajari di daerahnya telah cukup, Ibn S{a>lah{ kemudian memutuskan untuk merantau menuju Baghdad untuk melanjutkan kisah perjalanan pencarian Ilmunya. Ia juga terus berjalan menyusuri daerah-daerah melalui berbagai Negara sebagaimana perjalanan beliau ke Nisabur, Damaskus, Haran, Bait al-Maqds, sampai pada akhirnya kembali ke Damaskus dan begitulah perjalanan pencarian ilmu yang mengambarkan sosok yang haus akan pencerahan. Namun di tempat yang disebutkan terakhirlah menjadi tempat pilihan Ibn S{a>lah{ untuk hidup menetap dalam menjalani sisa-sisa masa hidup berikutnya.[5] Beliau meninggal ialah pada tanggal 25 Rabi>’ al-A>khir di Damaskus tahun 643 atau 1245 M sebagai seoranfg polymath yang ahli dibidang h{adis, fikih, us{u>l fikih, nah{wu dan beberapa cabang ilmu lain.[6]
Karya-karya Ibn S{a>lah{
Beliau banyak mengarang berbagai kitab dalam bidang-bidang tertentu. Salah satu karyanya adalah bentuk syarah terhadap karya al-Gazali yang beliau namakan Ta’li>qah ‘ala Syarh{ al-Wasa>’il.[7]
a)      Adab al-Mufti wa al-Mustafti
b)      Ta’li>qah ‘ala Syarh{ al-Wasa>’il
c)      Ar-Rih{lah asy-Syarqiyyah
d)     S{ilah an-Na>sik fi> S{ifah al-Mana>sik
e)      Fawa>’id ar-Rih{lah
f)       Kita>b fi> Us{u>l al-H{adi>s|
g)      Al-fata>wa
h)      An-Nakt fi> Ulu>m al-H{adis|[8]
i)        Ma’rifah al-Mu’talif wa al-Mukhtalif fi ar-Rija>l
j)        T{abaqah ay-Sya>fi’i
k)      Muqaddimah fi ulu>m al-H{adi>s| dll.

C.    Deskripsi Kitab Muqaddimah Fi ‘Ulu>m al-H{adi>s|
Nama kitab Ibn S{a>lah{ adalah Muqaddimah Fi> ‘Ulu>m al-H{adi>s|  salain nama tersebut, kitab ini juga dikenal dengan Muqaddimah Ibn S{a>lah{ dan Ma’rifah fi> ‘Ulu>m al-H{adi>s|. kitab ini ditah{qi>q oleh Nuruddin Itr dan pernah juga disyarah oleh Syaikh Burhanuddin dalam kitab sya>z| al-Fayya>h{ min Ulu>m Ibn Sala>h{. Beliau berkomentar bahwa kitab tersebut merupakan kitab terbaik pala bidangnya.[9]
Sistematika kitab Muqaddimah Fi ‘Ulu>m al-H{adi>s| cukup menggambarkan ketelitian dan upaya pengarangnya dalam menyusun kitab hadis sebaik mungkin. Beliau tidak kurang telah mengambil 65 topik[10] untuk diulas lebih lanjut dan masing-masing topik dibahas dengan cukup rinci. Topik-topik ini mulai dari teori sanad hadis yang bersifat metodologis hingga biografi rijal al-hadis yang bersifat historis.

D.    Meninjau Pemikiran Ibn S{a>lah dalam Kitab Muqaddimah Fi ‘Ulu>m al-H{adi>s|
Ibn S{a>lah dalam kitab beliau telah mencantumka beberapa teori tentang hadis baik yang berkenaan dengan criteria shahih, hasan, dan beberapa teori lainnya. Dalam tahap ini penulis mencoba mengungkap salah satu teori tersebut untuk dipaparkan lebih jauh dalam makalah ini. Penulis menganggap teori ‘I’tiba>r as-Sanad mungkin cukup mewakili sebagai kajian pada kesempatan kali ini untuk didiskusikan lebih lanjut. Hal yang perlu menjadi catatan adalah bahwa penulis hanya membahas topik ini dalam perspektif ibn Shalah.  Penulis berasumsi bahwa dengan melakukan kajian pada tema ini nantinya akan dapat memunculkan konsep ‘I’tiba>r as-Sanad versi Ibn Shalah mengingat banyaknya versi yang lain.
Keyword: ‘I’tiba>r as-Sanad, muttabi’, dan syawa>hid.
Menurut Ibn S{a>lah, membahas ‘I’tiba>r as-Sanad tidak bisa dilepaskan dari mambahas muttabi’ dan syawa>hid. Berikut akan dibahas satu-satu secara berurutan tentang ketiga term tersebut:[11]
1.      ‘I’tiba>r as-Sanad
Ibn S{a>lah membuka pembahasan mengenai ‘I’tiba>r as-Sanad melalui dua pertanyaan. Dua pertanyaan tersebut kurang lebih dapat difahami sebagai berikut:
“apakah sebuah hadis yang hanya memiliki satu jalur itu memang memiliki satu jalur? Ataukah hadis tersebut sebenarnya memiiki jalur lain hanya saja belum diketahui?”[12] 
Dari pertanyaan inilah, terlihat jelas bahwa fungsi dari ‘I’tiba>r as-Sanad adalah untuk mengetahui jalur lain dari hadis yang hanya memiliki satu sanad untuk mendapatkan dukungan dari rowi-rowi pada jalur lain sehingga dapat mengangkat derajat sanad hadis tersebut. ‘I’tiba>r as-Sanad sendiri didefinisikan oleh Ibn S{a>lah sebagaimana contoh yang beliau berikan adalah sebuah upaya mencari jalur lain ditingkat mulai dari mukharrij hingga sahabat.
2.      muttabi’
muttabi’ dibagi dua, yakni muttabi’ tam dan muttabi’ qasirmuttabi’ tam merupakan jalur lain yang dimiliki oleh sebuah hadis yang memiliki persamaan jalur persis di atas rowi pertama (guru rawi pertama). Sedangkan jalur lain ditingkat yang memiliki kesamaan lebih jauh dari guru rawi pertama adalah muttabi’ atau syahid.[13]
3.      syawa>hid.
Ibn salah menjelaskan bahwa syawa>hid setiap riwayat bil ma’na pada jalur lain di atas rawi kedua termasuk pula jalur lain yang meriwayatkan hadis secara ma’nawi dan tidak secara lafz{i.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memahami kerangka I’tibar Ibn Shalah adalah dengan memperhatikan riwayat lafz{i dan maknawi. Riwayat lafz{i adalah periwayatan matan dengn teks yang sama persis dengan matan hadis pada jalur pertama. Sedangkan riwayat maknawi adalah periwayatan matan namun dengan teks yang berbeda.



Jika digambarkan dalam bentuk tabel, berikut akan diketahui tentang Kerangka ‘I’tiba>r as-Sanad Ibn Shalah:[14]

Sufyan bin ‘uyainah
Muttabi’ tam
Namun  juga merupakan syahid karena diriwayatkan secara maknawi
Jalur Pertama
Muttabi’ Qasir dengan jalur pertama
Amr bin dinar
Atho’ bin Abi Rabbah
Ibn Abbas
        dari sketsa I’tiba>r Ibn S{ala>h ini, terlihat bahwa sanad sya>hid tidak ditentukan berdasarkan perbedaan jalur lain dari tingkat sahabat, namun ditentukan oleh riwayat bil makna atau bi al-Lafz{i. Hal ini berbeda dengan sketsa ulama kontemporer pada umumnya.
Syahid
Karena riwayat secara bil ma’na
Abdurrahman bin Wailah
Usamah bin Zaid
Ibn Juraij
NABI

perbandingan dengan kerangka aja
>j al-Khatib[15]
nabi
D
C
E
I
H
N
M
Riwayat Ma’nawi

P
O
Syahid maknawi
Syahid lafzi
Menurut Ibn Shalah, Syahid Lafzi bisa dikatakan sebagai muttabi’ qashir
Hadis pertama
Muttabi Tam
Muttabi Qashir

Menurut Ibn Shalah
Muttabi’ qasir bisa dikatakan syahid bila periwayatannya secara makna

Sedangkan a’jaz al-ulama kontemporer seperti Khattib Telah Memisahkan antara muttabi’ dan syahid
L
K
J
F
B
A
G

 

Perbandingan Aplikasi I’tibar Hadis Ibn Shalah dengan Ajaj al-Khatib:        

Darimi No. 375[16]
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ بُرْدِ بْنِ سِنَانٍ أَبِي الْعَلَاءِ عَنْ مَكْحُولٍ قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَلِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yusuf dari Sufyan dari Burd bin Sinan Abu Al 'Ala` dari Makhul berkata: "Barang siapa mencari ilmu sekedar untuk meremehkan orang-orang orang bodoh, untuk menandingi para ulama dan untuk mencari muka manusia, dia masuk neraka jahannam".

Nabi }Makhul }Burd bin Sinan Abu Al 'Ala` } Sufyan }Muhammad bin Yusuf }Darimi

Darimi No. 369[17]
أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ بِسْطَامَ عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمْزَةَ حَدَّثَنِي النُّعْمَانُ عَنْ مَكْحُولٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يُرِيدُ أَنْ يُقْبِلَ بِوُجُوهِ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ جَهَنَّمَ

Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Bitsham dari Yahya bin Hamzah telah menceritakan kepada kami An Nu'man dari Makhul ia berkata: "Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa mencari ilmu untuk menandingi para ulama, atau meremehkan orang-orang bodoh dan untuk mencari muka manusia (mendapat perhatian), Allah memasukkannya ke neraka jahannam' ".

Nabi  }   Makhul }   An-Nu'man }  Yahya bin Hamzah }   Yahya bin Bitsham }   Darimi
Sunan Ibn Majjah No. 249[18]
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا أَبُو كَرِبٍ الْأَزْدِيُّ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَهُوَ فِي النَّارِ
Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Abdurrahman berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Al 'Azdi dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa menuntut ilmu untuk meremehkan orang-orang bodoh, atau untuk mendebat para ulama, atau untuk menarik perhatian manusia, maka ia akan masuk ke dalam neraka."

Nabi  }   Ibnu Umar }   Nafi' }  Abu Kuraib Al ‘azdi }   Hammad bin Abdurrahman }   Hisyam bin 'Ammar } Ibn Majjah

Sunan Ibn Majjah No. 256[19]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ أَنْبَأَنَا وَهْبُ بْنُ إِسْمَعِيلَ الْأَسَدِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ وَيُجَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ جَهَنَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il berkata, telah memberitakan kepada kami Wahb bin Isma'il Al Asadi berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id Al Maqburi dari Kakeknya dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mempelajari ilmu untuk mendebat ulama, merendahkan orang-orang bodoh serta memalingkan perhatian manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam jahannam."

Nabi  }   Abu Hurairah }   Abu Said } Abdullah bin Said }   Wahb bin Ismail }   Muhammad bin Ismail al-Asadi } Ibn Majjah
Darimi
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَلِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ .I
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ  .III
Nabi
makhul
Burd bin Sinan
An-Nu’man
sufyan
Yahya bin hamzah
Muhammad bin Yusuf
Yahya bin bisham
Ibn Umar
Abu hurairah
Nafi’
Abu Said
Abdullah bin Said
Abu Khuraib
Hisyam bin Ammar
Muhammad bin Ismail
I
II
III
IV
Muttabi’
Syahid Lafzi
Ibn Salah
Ajaj al-Khatib
Syahid karna bil ma’na/muttabi’ karena perbedaan redaksi  tidak terlalu jauh
Syahid ma’nawi
Muttabi’
Muttabi’
مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ وَيُجَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ  .IV
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ  .II
Ibn Majah
 

 

E.     Kesimpulan
1.      Melihat biografi Ibn S{ala>h{, beliau bisa dikatakan merupakan salah satu Ahli h{adi>s yang cukup memberikan pengaruh pada abad ke enam Hijriyah terutama di wilayah Damaskus.
2.      Karya beliau “muqaddimah fi> ulu>m al-H{adi>s|” yang berisi 65 topik merupakan kitab yang berisi teori tentang hadis-hadis yang memberikan dasar pada karya setelahnya.
3.      Pemikiran-pemikiran teoritis beliau terutama tentang I’tiba>r bisa digambarkan melalui tiga aspek berikut:
a)      Jika melihat kerangka Ibnu Sala>h, I’tibar mengacu pada aspek lafz{{i dan maknawi matan. Hal ini berbeda dengan teori I’tiba>r ulama setelah beliau seperti aja>j al-Khatib yang membedakan antara sya>hid dengan muttabi’ berdasarkan jalur sanad.
b)      Fungsi dari I’tiba>r adalah sebagai upaya mencari kwalitas sanad lain dalam mendukung sanad yang ditemukan terlebih dahulu. Selain itu proses I’tiba>r dikembangkan oleh ahli hadis setelahnya dengan membuat gambar kerangka sehingga fungsi itibar juga dapat memperjelas alur perjalanan riwayat hadis.
c)      Upaya yang dilakukan oleh Ibn S{ala>h{ pada priodenya sangat memberikan manfaat kepada kajian hadis setelahnya meski tidak menafikan peran ulama sebelumnya dalam membantu Ibn S{ala>h{ memahami I’tiba>r.



F.      Daftar Pustaka

Abdurrahman,  Abdullah bin.  “Sunan ad-Darimi”, dalam CD Lidwa Pustaka, 2010.
ad-Dimasyqi, ‘Umar bin Rid{a. mu’jam al-Mu’allifi>njuz VI (Beirut: Da>r al-Ih{ya>’ tura>s| al-‘Arabi ).
al-Khattib, A’jaj. Usu>l al-Hadi>s (Daar al-Fikr, 1971), hlm. 366.
Ami>n, Isma’il bin Muhammad. Hadiyyah al-‘A>rifi>n asma>’a al-Mu’allifi>n wa wa as|a>r al-Musannifi>n juz I  (Beirut: Da>r al-Ih{ya>’ tura>s| al-‘Arabi, 1951).
Hulaifah,  Haji. Kasyf az{-Z{unu>n ‘an asa>m al-Kutub wa al-Funu>n (Bagdad: Maktabah al-Masna, 1941), hlm. 1162.
Mausu>’ah al-Arabiyyah al-‘Alamiyyah dalam CD Maktabah Syamilah 3.61, 2013.
Shalah, Ibn. Ulu>m al-H{adi>s|.
Yazid, Abu Abdullah Muhammad bin. “Sunan Ibn Majjah”, dalam CD Lidwa Pustaka, 2010.






[1] Isma’il bin Muhammad Ami>n, Hadiyyah al-‘A>rifi>n asma>’a al-Mu’allifi>n wa wa as|a>r al-Musannifi>n juz I  (Beirut: Da>r al-Ih{ya>’ tura>s| al-‘Arabi, 1951), hlm. 654.
[2] ‘Umar bin Rid{a ad-Dimasyqi, mu’jam al-Mu’allifi>njuz VI (Beirut: Da>r al-Ih{ya>’ tura>s| al-‘Arabi ), hlm. 257.
[3] Isma’il bin Muhammad Ami>n, Hadiyyah al-‘A>rifi>n asma>’a al-Mu’allifi>n wa wa as|a>r al-Musannifi>n juz I  (Beirut: Da>r al-Ih{ya>’ tura>s| al-‘Arabi, 1951), hlm. 654.

[4] Mausu>’ah al-Arabiyyah al-‘Alamiyyah dalam CD Maktabah Syamilah 3.61, 2013.
[5] Mausu>’ah al-Arabiyyah al-‘Alamiyyah dalam CD Maktabah Syamilah 3.61, 2013.
[6] Umar bin Rid{a ad-Dimasyqi, mu’jam al-Mu’allifi>njuz VI (Beirut: Da>r al-Ih{ya>’ tura>s| al-‘Arabi ), hlm. 257.
[7] Isma’il bin Muhammad Ami>n, Hadiyyah al-‘A>rifi>n asma>’a al-Mu’allifi>n wa wa as|a>r al-Musannifi>n juz I  (Beirut: Da>r al-Ih{ya>’ tura>s| al-‘Arabi, 1951), hlm. 654.
[8] Isma’il bin Muhammad Ami>n, Hadiyyah al-‘A>rifi>n asma>’a al-Mu’allifi>n wa wa as|a>r al-Musannifi>n juz …, hlm. 654.

[9] Haji Hulaifah, Kasyf az{-Z{unu>n ‘an asa>m al-Kutub wa al-Funu>n (Bagdad: Maktabah al-Masna, 1941), hlm. 1162.
[10]  Ibn Shalah, Ulu>m al-H{adi>s|, hlm. 7-11.
[11] Ibn Shalah, Ulu>m al-H{adi>s|, hlm. 82-85.
[12] Ibn Shalah, Ulu>m al-H{adi>s|, hlm. 82.
[13] Term-term yang  digunakan oleh Ibn Salah ini sedikit berbeda dengan term yang dipakai oleh ulama saat ini yang membagi muttabi’ tam, muttabi’ qasir, dan syahid lafzi dan ma’nawi. Menurut Ibn Shalah, muttabi’ qasir juga merupakan syahid. Beberapa ulama ahli hadis biasanya memisahkan antara tabi’ dengan syahid. Seperti a’jaj al-Khatib.
[14] Ibn Shalah, Ulu>m al-H{adi>s|, hlm. 84.
[15] A’jaj al-Khattib, Usu>l al-Hadi>s (Daar al-Fikr, 1971), hlm. 366.
[16] Abdullah bin Abdurrahman, “Sunan ad-Darimi”, hadis No. 375 dalam CD Lidwa Pustaka, 2010.
[17] Abdullah bin Abdurrahman, “Sunan ad-Darimi”, hadis No. 369 dalam CD Lidwa Pustaka, 2010.

[18] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid, “Sunan Ibn Majjah”, hadis No. 249 dalam CD Lidwa Pustaka, 2010.
[19] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid, “Sunan Ibn Majjah”, hadis No. 256 dalam CD Lidwa Pustaka, 2010.

No comments:

Post a Comment