Wednesday, February 23, 2011

FALSAFATUNA (AYATULLAH MUHAMMAD BAQIR ASH-SHADR)

FALSAFATUNA (AYATULLAH MUHAMMAD BAQIR ASH-SHADR)
RESENSI
 Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum
Dosen Pengampu : 
Dr. H. FAUZAN NAIF, MA.
Disusun Oleh : 
MUHAMMAD BARIR 
NIM 10530072
 TAFSIR HADITS USHULUDDIN, STUDI AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGJAKARTA
2010
           Falsafatuna Dirosah maudhu’iyah fi mu’tarok al-shira’ al-fikry al-qoim bin mukhtalaf at-thoyaroh al-falsafiyah wal falsafah al-slamiyah wa al-madaniyah ad-diyaliktikiyah (al-marksiyah) karya syahid al-islam ayatulloh al-uuzhma as-sayid Muhammad baqir ash-shodr terbitan darul kitab al-islamiy. Qum, Iran, cetakan ke sepuluh 1401 H/1981 M penerjemah: M. Nur Mufid bin Ali Penyunting: Ilyas Hasan (merujuk bahasa Inggrisnya “Our philosophy) MENGENAI PENULIS “Habr al-Ummah” dari Bagdad*) Diterbitkan oleh penerbit Al-Mizan anggota IKAPI Jl. Yodkali 16, telp. 700931 Bandung (40124) 

RIWAYAT HIDUP
         Suatu hal yang menarik, bahwa ulama’, sarjana, guru, dan tokoh politik yang bernama lengkap Muhammad Baqir As-Sayid Haidar bin Isma’il As-Sadr yang dilahirkan di Kazimain, Baghdad, Irak pada tahun 1350 H/ 1931 M ini, berasal dari suatu keluarga yang menjadi sumber tokoh kenamaan di Irak, iran, dan Lebanon, ini terlihat dari butkti sejarah yakni : 1. Sayyid Shadr Ad-Din Ash-Shadr, menjadi seorang marja’ yakni orang yang menjadi otoritas rujukan tertinggi dalam madzhab syi’ah. 2. Muahmmad Ash-Shadr, seorang yang berperan penting dalam revolusi Irak melawan inggris dengan membentuk Haras Al-Istiqlal (pengawal kemerdekaan). 3. Musa ash-shadr, seorang pemimpin syi’ah di Lebanon. Pada usia empat tahun, beliau harus menjadi yatim karena ditinggal ayahnya menghadap tuhan yang memiliki kehidupan, kemudian menjadi piatu dengan wafatnya sang Ibunda menyusul ayahnya, setelah itu kakak beliau Isma’il—merupakan seorang mujtahid di Irak—juga turut meninggalkan beliau. Sejak kecil beliau telah menunjukan tanda-tanda kejeniusan, pada usia sepuluh tahun, beliau sudah memberi ceramah tentang sejarah islam, dan kultur budaya. Tak hanya itu, beliau juga sudah bisa menangkap isu-isu teologis yang sulit, tanpa bantuan seorang guru. Pada usia sebelas tahun beliau mengambil studi logika dan menyusun suatu buku yang mengkritik para filosof. Pada usia tiga belas tahun kakaknya memberinya pendalaman ilmu Ushul Ilm al-Fiqh (asas-asas ilmu hokum islam) di usia enam belas tahun beliau pergi merantau untuk menuntut berbagai disiplin ilmu ke Najaf. Empat taahun kemudian beliau menyusun sebuah buku bertajuk “Ghoyat Al-Fikr Fi-Al Ushul (pemikiran puncak dalam ushul)” pada usia dua puluh lima tahun beliau mengajar Baths Khorij (tahap akhir Ushul)—pada saat itu usia beliau lebih muda dari kebanyakan muridnya—dan pada usia tiga puluh tahun beliau sudah menjadi seorang mujtahid. Dalam bidang tulis-menulis beliau menggunakan kata-kata yang mengandung kritik tajam yang menyerang kolompok materialistic dan menawarkan konsep Islam sebagai gantinya dalam pandangan-pandangan tashdiq (penetapan benaranya sesuatu) . Selain itu beliau ketika dijadikan sebagai konsultan masalah perekonomian terkhusus perekonomian Islam. Beliau berargumen bahwa politik merupakan salah satu sarana perjuangan maka kaum muslimin sangat perlu dibakar semangatnya untuk ikut partisipasi dalam bentuk apapun. Dalam dunia polotik, beliau menjadi bapak dari Hizb Da’wah Al-Islamiyah sebuah partai politik yang bernuansakan islam. Sikap beliau mengakibatkan beliau harus keluar masuk tahanan dan dipindahkan dari satu kota ke kota lainya karena dituding keyakinan politiknya mengakibatkan gejolak dengan banyak ditentangnya rezim politik saat itu oleh masyarakat. Bahkan adik perempuanya turut berjuang dengan menentang terhadap penahanan seorang marja’. Pada tanggal 5 April 1980 beliau ditahan kembali bersama saudara perempuanya Bint al-Huda dan tiga hari kemudian dieksekusi di Baghdad. Jasad beliau di bawa ke najaf dan di makamkan di sana. 
  BEDAH PEMIKIRAN FILSAFAT BAQIR AS-SADR YANG TERTUANG DALAM “FALSAFATUNA” 
         Sebagaimana pembahasan dalam ilmu filsafat lainnya, filsafat gaya Baqir as-Sadr juga masih berkutat dalam permasalahan pokok filsafat yakni tashdiq dan tashowwur atau pembenaran dan konsepsi. Konsepsi menjelaskan tentang bagaimana manusia berfikir mendalam tentang suatu peristiwa yang terjadi dengan kapasitas akalnya dan dengan mengakumulasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah lalu dalam sebuah tatanan sistematis sehingga menghasilkan out put yang memiliki tingkat kredibilitas dan validitas yang tinggi. Pembenaran atau tashdiq ialah suatu pandangan seorang manusia dalam menentukan bagus dan yang buruk; yang salah dan yang benar; dan yang baik dan yang jahat. Dalam karyanya, Baqir as-Sadr pertama-tama menunjukan beberapa pandangan tokoh-tokoh filosof dari berbagai aliran, mulai dari filosof yang murni berpegang pada akal sebagai postulat seperti kelompok empirik sampai filosof yang melakukan kombinasi antara peran akal dan peran wahyu. Mengenai konseptualitas dia berada pada posisi tengah dengan tidak begitu bercorak rasional dan juga tidak terlalu bercorak konservatif walaupun juga tampak bahwa tingkat porsi akal as-Sadr lebih tinggi. Dia menolok pendapat kaum empirik yang terlalu berpedoman pada konsep kausalitas yang menyatakan bahwa segala sesuatu pasti ada sebabnya, dalam hal ini dia menyerang mereka dengan mengajukan beberapa pertanyaan tentang kehendak, kesukaan seseorang yang bersifat relatif, dan hal-hal lain yang bersifat intuisi yang kesemuanya tidak ditemukan sebab yang mendasari munculnya hal-hal di atas. Dia juga tidak begitu sefaham dengan kelompok yang terlalu konservatif dengan mengemukakan bahwa bagaimanapun bentuk pemrosesan suatu hal yang terjadi masih saja dibutuhkan panca indera sebagai pitnu depan dalam melakukan pembacaan terhadap suatu perso’alan, dia menyebut hal itu sebagai konsepsi pirmer. Pandangan Baqir as-Sadr juga mengarah pada permasalahan tashdiq atau pembenaran dimana persoalan ini memprioritaskan bagaimana manusia mampu memahami yang baik dan yang buruk dan memilih mana yang benar dan meninggalkan yang salah. Dia memahami bahwasanya tashdiq itu bisa diperoleh atau dalam artian manusia itu dapat mengetahui yang baik dan yang buruk itu melalui dua hal. Yang pertama ialah secara intuitif atau alamiah nurani dimana manusia dengan penjiwaanya mampu mengetahui benar dan salah tanpa harus melalui pemikiran panjang, seperti dua merupakan sebagian dari empat; lawan dari barat ialah timur; lawan atas ialah bawah; dan lain sebagainya. Beberapa contoh diatas dimengerti oleh akal secara langsung. Kedua, ialah secara teoritis, dalam buku falsafatuna baqir as-sadr mengemukakan suatu metode dimana suatu kebenaran itu tidak dapat diperoleh kecuali dengan pengalaman yang telah ada yang merupakan hasil penelitian dan pemikiran sebelumnya. Seperti pernyataan bahwa bumi itu bulat; bumi itu mengelilingi matahari; bulan adalah satelit bumi; dan sebagainya yang kesemua itu dapat diketahui melalui jalan empiric atau pembuktian. Terlepas dari itu semua islam memposisikan dirinya pada puncak kitab diantara berbagai kitab lainya dalam artian pembuktian yang dilakukan secara historis yang diyakini kebenaranya menempatkan islam dengan al-Qur’anya sebagai kitab yang paling otentik. Tapi kelemahan doktrin ini, sebagaimana yang dijelaskan as-Sadr ialah tidak memercayai suatu presepsi masa depan yang belum terjadi karena sesuatu yang belum terjadi merupakan sesuatu yang belum memiliki bukti. Pemikiran-pemikiran Baqir as-Sadr di atas memberi sinyal bagi manusia dalam berfikir mencari kebenaran haruslah tidak melupakan aspek kejadian yang telah terjadi sebelumnya dan bagaimana metode penyelesaian dari persoalan tersebut yang kesemuanya merupakan pengalaman yang dijadikan pijakan dalam memutuskan sesutu. Kiranya benar kata plato bahwa pengetahuan baru didapat dari pengetahuan lama yang difikirkan terus-menerus. Lebih lanjut rosulullah bersabda “Hikmah merupakan sesuatu yang hilang dari jati diri seorang mu’min” maka dari itu hikmah harus terus dicari.

1 comment: