Friday, June 2, 2017
KISAH KAMPUNG HALAMAN GRESIK YANG HILANG
Aku lahir di desa yang kanan kirinya diapit gunung. Terhampar luas hijau sawah yang memutari desa. Embun berkabut-kabut terasa sejuk di pagi hari. Pantulan kemuning sawah berkilap emas di sore hari.
Sempat ku pergi beberapa saat tinggalkan mu, namun tat kala aku kembali kau tidak lagi memperlihatkan keperawanan alammu, kearifan budayamu, dan kekayaan tradisimu. Pabrik-pabrik dengan seribu cerobongnya tampak memberi harapan kepada kantong rizki sebuah keluarga sementara. Namun tak terasa lambat laun sebenarnya merusak dalam jangka panjangnya.
Senyuman antar saudara yang dulu hangat terasa tat kala mereka berjumpa di jalanan sekarang tergantikan oleh caci makian pengguna jalan yang tak sabar akan saling mendahului. Kau tidak hanya merusak jalan raya, tapi kau merusak budaya secara berlahan, kau merusak lingkungan itu pasti.
Daya dukung dan daya tampung Gresik tidaklah memadai untuk diporsir. Rencana Tata Ruang Wilayah tak dipikirkan jangka panjangnya. AMDAL tidak lagi dapat menyelamatkan kota santri yang telah kehilangan sarungnya. Aku rindu pesantren yang dulu. Santri yang kembali ke desa untuk memakmurkan masjid, bukan memakmurkan mesin-mesin pabrik.
Tingkat kesehatan udara, air, dan tanahmu tergerus, bagai hujan badai yang mensirnahkan debu-debu di atas batu kali. Penyakit baru kian merebak, lalu apakah aku harus tetap diam.
Monday, April 24, 2017
KELEMBAGAAN LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA
Dalam skala pendidikan
tinggi di Indonesia, telah terdapat 11 Program Program Studi yang
menyelenggarakan pendidikan ilmu lingkungan dalam level pascasarjana. Jumlah
tersebut ditopang oleh 106 PSL (Pusat Studi Lingkungan) di seluruh perguruan
tinggi di Indonesia. Selain itu, beberapa organisasi seperti IALHI yang terbentuk
melalui pertemuan pakar lingkungan hidup di UNS pada 2009 yang kemudian berubah
nama menjadi PERALHI pada tahun 2016 telah membuktikan eksistensi kajian dan
peminat studi lingkungan. Organisasi dan lembaga tersebut diperkuat dengan
organisasi-organisasi monitoring seperti EPW (Environmental Parlianment Wacth) dan lainnya. Di tengah geliat
aktivitasnya sumbangsih yang cukup besar juga ditunjukkan oleh lembaga yang
langsung berhadapan vis a vis dengan
masyarakat seperti WALHI, INKALINDO, SHEEP, dan banyak lagi. Kesemuanya menjadi
eksekutor berbagai kegiatan yang menjadi motor penggerak aktivitas lingkungan
di tengah masyarakat dan menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah melalui
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Untuk saat ini, dengan berbagai
perkembangan studi dan aksi tersebut memang belum dapat memutus mata rantai
bencana alam dan berbagai krisis lingkungan yang sedang di alami oleh negeri
ini, namun potensi tersebut menjadi modal dan acuan dalam perbaikan lingkungan
hidup Indonesia masa depan, terutama cita-cita renaissance lingkungan hidup Indonesia pada tahun 2045.
Meski masih memiliki
banyak kekurangan, masyarakat perlu yakin dan tidak menutup mata terhadap
bebrapa kemajuan yang dicapai berkat kajian yang dilakukan lembaga dan
organisasi lingkungan saat ini. Beberapa persoalan yang melanda DAS (Daerah
Aliran Sungai), CAT (Cekungan Air Tanah), dan lain sebagainya telah mulai
dikaji untuk diperbaiki. Dan benar, bahwa kajian tersebut telah sedikit banyak
mulai dirasakan pada ranah aplikatif. Terdapat satu hal yang dapat menjadi
wadah dari aplikasi perbaikan lingkungan yang sebelumnya jarang disinggung,
yaitu wadah kebudayaan.
Kajian dan aksi
lingkungan tidak dapat dilepaskan dengan melibatkan unsur masyarakat dalam
kebudayaannya. Selain bersifat mendidik, hal ini dapat mamantau perkembangan
masyarakat dalam tingkat kepedulian mereka terhadap lingkungan hidup. Di
beberapa daerah seperti Banjarnegara menjadi tanda mulai tersebarnya kajian
lingkungan seperti kajian DAS. Dari tahun ke tahun telah diadakan Gemuruh
Serayu yang beresensi memangku sungai sebagai wahana kebudayaan. Melalui
budaya, masyarakat diperkenalkan untuk cinta terhadap lingkungannya, terutama
sungai sebagai pusat penghidupan masyarakat yang dari sungai tersebut akan tercipta
hubungan simbiosis yang melibatkan relasi antara manusia, pohon, hewan, dan
aneka hayati lainnya untuk bersinergi dalam menjaga keseimbangan dan kualitas
hidup yang baik.
Telah saatnya upaya
pemeliharaan lingkungan melibatkan masyarakat. 85 pasal penanggulangan bencana
yang dirumuskan pemerintah tidak akan sepenuhnya dapat menolak terjadinya
bencana alam yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Kepedulian antisipasi masyarakat
sebagai bentuk pola TAGANA (Tanggap Bencana) harus dimulai dengan menanggulangi
ketidakstabilan alam dengan mencintai alam itu sendiri. Mencintai alam tersebut
diwujudkan dengan merawat lingkungan. Salah satunya berangkat dari hal terkecil
seperti tidak membuang sampah pada aliran sungai. Menanamkan istilah
“meletakkan” sampah pada tempatnya pada anak-anak kita, setidaknya untuk
menghindari istilah “membuang”. Selain melatih generasi untuk disiplin,
kebijaksanaan berbagai istilah yang kita gunakan menjadi bentuk dari akar
ontologis yang membangun mindset positif
dari semua aspek kehidupan.
Dengan upaya melatih
pemeliharaan lingkungan berwadah budaya tersebut, para pakar yakin bahwa pada
tahun 2045, Indonesia akan memasuki era renaissance
lingkungan hidup. Beberapa tokoh
lingkungan seperti Emil Salim meyakini bahwa kepedulian masyarakat terhadap
lingkungan menjadi bagian dari proses pembangunan berkelanjutan. Lingkungan
yang baik tidak hanya membantu terhadap terwujudnya kualitas hidup yang baik,
namun juga dapat menumbuhkan nilai infestasi. Tidak hanya melalui sektor
pariwisata, namun hingga sektor agrobisnis.
Keseimbangan sentra
bisnis dengan reboisasi lingkungan semakin banyak terlihat, bahkan di pusat aktivitas
bisnis seperti Jakarta. Pengimbangan wilayah pesisir dengan hutan mangrove di
Jakarta bukan hal yang mustahil. Terbukti hal itu sama sekali tidak menghambat
pertumbuhan ekonomi, namun malah mempertahankan kekuatan daerah pesisir laut
dan dalam fungsinya yang lain bahkan mampu menunjang agrowisata alam.
Aktivitas menyeimbangkan
alam memang sedang digalakkan dan berada dalam proses perbaikan. Hal semacam
ini bisa dilihat dari kajian penanganan limbah medis dan pabrik, sustainable hotel design, resapan air tanah, dan aspek lain yang saat ini
sedang aktif menjadi kajian lingkungan hidup yang tinggal menunggu waktu untuk
dapat diaplikasikan dalam menyongsong renaissance
lingkungan hidup Indonesia tahun 2045. Semua standar lingkungan harus
ditegakkan, mulai dari RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), CSR (Corporate Social Responsibility), dan
aspek lainnya yang kesemua diatur oleh AMDAL sebagaimana rumusan SKKNI yang
harus terus dikawal agar tidak cenderung pada kepentingan tertentu. Sebagai
buah pemikiran, lampiran SKKNI juga harus terus digodok dan terus
mempertimbangkan perkembangan teknologi dan standarisasi yang terus
dikembangkan di seluruh dunia.
Jika melihat perkembangan
standar lingkungan dunia, Australia menjadi salah satu negara yang dapat
diteladani dalam hal ini. Mereka merancang Standard
Operating Procedure (SOP) lingkungan
hidup yang dapat diadopsi oleh semua negara. Tidak ada aturan plagiarisme,
namun hal ini lebih pada bentuk dedikasi mereka dalam memprioritaskan kebutuhan
global. Dengan hal ini, diharapkan lebih banyak lagi negara lainnya yang saling
membuka diri dan sadar bahwa kebutuhan lingkungan hidup bukanlah kebutuhan
skala nasional, namun kebutuhan global. Kebutuhan global tersebut ditentukan
dan dimulai oleh kesadaran individual.
Dari sini, individu
bangsa Indonesia dihadapkan dengan tantangan untuk menjadi prototype lingkungan hidup dalam skala global pada tahun 2045. Di
antara negara lainnya, Indonesia memiliki kriteria yang mewadahi dan berpeluang
besar untuk didaulat sebagai prototype
lingkungan hidup tersebut dengan segala potensi alam yang dimilikinya. Dengan
berbagai keragaman dan kekayaan hayatinya. Tinggal, bagaimana kemudian peran
aktif dari masyarakat di lapangan, stakeholders
di pemerintahan, dan para akademisi di pusat studi lingkungan untuk terus
bersinergi secara intensif dengan kesatuan visi.
MAJLIS ULAMA BUKHOREN HADININGRAT USULKAN PEMBANGUNAN MASJID DI BANDARA KULON PROGO
Yogyakarta, 24 April 2017
Bertempat di Masjid Gede Yogyakarta, para ulama dari berbagai pesantren yang ada di Yogyakarta berkumpul dalam rutinitas Pengajian Bukhoren Hadiningrat. Sebuah pengajian dan pengkajian kitab Sahih Bukhari secara masal yang dihadiri oleh ulama atau kiai se DIY yang dihidupkan kembali oleh Almarhum KH. Ali As'ad Plosokuning. Tepat dalam malam isra' mi'raj tersebut, para ulama membagi pembacaan kitab Hadis Sahih Bukhari, membedahnya, dan diakhiri dengan diskusi berupa tanya-jawab. Dalam diskusi tersebut, salah seorang penyanya mempertanyakan tentang dampak pembangunan bandara internasional di Kulon Progo terhadap kebudayaan masyarakat DIY dan Akhlaq umat muslim DIY seiring operasional bandara yang diikuti dengan pembangunan tempat-tempat hiburan lainnya.
Majlis Rutin Bukhoren Hadiningrat Masjid Pathok Negoro dan Masjid Gedhe
KH. Najib selaku penyeimbang dalam acara tersebut mengemukakan pendapat bahwa keberadaan bandara tidak dapat dihindarkan dalam mengangkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Kulon Progo, namun hal itu diiringi dengan dampak negatif yang mau tidak mau ada dalam mengiringi proyek tersebut.
Pendirian bandara internasional Kulon Progo menjadi tantangan bagi Ulama Yogyakarta untuk mengawal dampak budaya pasca operasional bandara kelak. Di tengah diskusi seseorang anggota diskusi mengusulkan untuk mengimbangi budaya luar masuk dan mengganggu budaya luhur Keraton Mataram Islam, maka seharusnya mesti dibuat icon tertentu yang memiliki nilai simbolis dan filosofis tentang budaya luhur Islam Ala Yogyakarta yang kemudian dipilihlah simbol masjid untuk mengimbangi arsitektur modern bandara nantinya.
Dalam Majlis Ulama Yogyakarta tersebut juga menambahkan usul lain perihal nama bandara yang akan berdiri di wilayah Barat Yogyakarta tersebut. Anggota diskusi mengusulkan nama lokal yang memiliki nilai historis keagungan Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Setelah berdiskusi kemudian dipilihlah nama Bandara Sultan Agung. Hal tersebut menjadi keinginan Ulama Yogyakarta yang notabene juga menjadi bagian dari masyarakat Yogyakarta dalam melihat bandara-bandara besar di tempat lainnya yang menggunakan nama pahlawan atau orang yang berjasa besar dalam sejarah daerahnya masing-masing.
Lip_Barier
Monday, February 27, 2017
AKU DAN PULAU SEBERANG
Muhammad Barir Irfanie
Langit Yogyakarta hari itu tak secerah biasanya. Musim hujan yang tak menentu dan pertambahan jumlah penduduk mengubah jati diri Jogja. Separuh dari ketenangannya telah tergerus zaman. Perubahan budaya telah melunturkan warna warni Yogyakarta yang ku kenal. Di tengah renungan akan Yogyakarta, ku ditugaskan untuk harus meninggalkan kota ini. Tidak lama, tapi cukup untuk sekedar bercengkerama dengan suasana baru.
Malam sebelum keberangkatanku, langkah kakiku menuju kos Henrico. Seorang teman yang akan menghabiskan banyak moment di perjalanan nanti. Banyak obrolan malam itu, tentang kerjaan dan hal-hal lain yang sayang untuk dilewatkan. Tapi kali ini tak bisa terlalu malam, karna besok sebelum mentari terang kami sudah harus beranjak pergi.
Azan menggema, menyusuri gang demi gang pemukiman padat di kawasan Demangan Yogyakarta. Setelah sejenak menjalankan perintah Tuhan kami langsung mandi dan berkemas. Satu persatu anak tangga kami turuni. Kami membagi dua kardus berisi berkas kantor satu orang satu. Kamar kos Henrico di lantai dua. Pemiliknya orang kristiani yang ramah. Tapi anjing-anjing di depan kos tak seramah pemiliknya. Gonggongan mereka seolah menjadi bahasa yang dapat diartikan sebagai gertakan. Meski aku tak takut, tapi aku khawatir terkena liur basah yang berlendir itu. Apa yang kurasa juga dirasakan Henrico, tapi dia lebih jago dalam menghindari mereka. Berjalan dengan tenang melewati dua ekor anjing yang tak lepaskan pandangan matanya. Langit pun menguning. Stasiun tugu Yogya menungguku di sana.
Setelah berjalan tidak kurang 500 meter, kami dijemput mobil dan langsung melesat menuju stasiun. Saat itu suasana tidak terlalu ramai, masih ada 30 menit sebelum keberangkatan. Kami rasa segelas teh hangat dan mie Jawa cukup untuk sekedar menemani penantian.
Kumpulan embun pagi membuat pandangan di kejauhan terlihat berkabut. Kereta kami datang dengan bunyi khasnya. Menapaki dua besi rel yang tampak kehitaman karena basah. Tak lama rel itu menguning karena mentari dengan genitnya mulai mengintip dari balik awan. Sinar-sinarnya mengucapkan salam perpisahan kepada kami. Dalam hati, ku bertanya tentang apa yang akan ku alami beberapa hari kemudian.
~-~
Surabaya menjadi tujuan pertama kami sebelum menyeberang ke Pulau Madura. Aku dan Henrico sampai. Tanpa istirahat, kami langsung bergegas menuju suara seruan. Kedatangan kami pas dengan kumandang azan sholat Jumu'ah. Melaksanakan Jumu'ah di kondisi perjalanan tidak wajib, tapi i'tikad baik temanku untuk ingin merasakan suasana sholat Jumu'ah di Surabaya membuatku mengiyakan ketika ia mengajakku.
Tugas di lembaga lingkungan yang akan kami jalankan cukup penting untuk masa depan banyak wilayah di Indonesia. Tugas kami adalah memastikan kesiapan Universitas Trunojoyo Bangkalan sebelum kedatangan pakar lingkungan dari kementarian. Mereka adalah para asesor AMDAL yang akan melakukan penilaian terhadap beberapa konsultan yang akan menangani berbagai proyek besar.
Henrico adalah fasilitator terlatih yang menyiapkan berbagai dokumen dan semua hal yang berkaitan denagan elektronik sistem. Aku bertugas mendata peserta dan membantu mengawasi jalannya uji kompetensi tes dan wawancara. Memanggil peserta satu persatu dan mempertemukannya dengan para asesor di ruang uji. Kami siap. Tidak banyak yang ku pikirkan di perjalanan ini.
Jembatan Suramadu nampak diujung sana. Terlihat megah dengan berjuta memori dalam pembangunanya. Kami menyebrangi jembatan yang sebenarnya mulai diusulkan sejak 1991.
Samsuri, seorang sopir yang mengantarkan kemi menangis. Ia masih ingat betapa susah hidup di Madura sebelum jembatan Suramadu tegak berdiri. Kompromi para pengusaha kapal feri selalu bisa mensiasati agar pembangunan Suramadu tertunda.
Kiai yang menurut masyarakat Madura derajatnya lebih tinggi dibanding presiden menjadi cultural broker. Sebuah istilah yang oleh Cliffor Geertz digunakan untuk menyebut seorang sosok yang menjadi penentu perubahan dan keberlangdungan budaya masyarakat. Momen sidang penentuan jadi-tidaknya Suramadu di bangun akhirnya datang. Beberapa kiai Madura berangkat menggunakan mobil. Beberapa mobil mewah masuk dermaga feri. Nampak dari dalam salah satu mobil mewah tampak seorang kiai melakukan dzikir dengan tenang dan nyamannya. Di sisi yang lain, tampak sebuah mobil yang usang. Dari dalamnya, keluarlah seorang Kiai dengan raut muka marah dengan mengipas-kipaskan sorbanya karena panas menunggu berjam-jam antrian feri.
Bagi kiai kaya dan bermobil mewah, cukuplah menggunakan feri. Mereka menolak berdirinya Suramadu. Di sisi lain, bagi kiai yang hidup apa adanya, feri cukup mahal dan antrian ketika itu cukup menguras emosi. Kiai semacam ini adalah salah satu yang mendukung berdirinya Suramadu.
Di kemudian hari terkuak bahwa mobil-mobil mewah tersebut adalah hadiah dari pemilik usaha kapal feri untuk mempengaruhi para kiai agar tidak setuju pembangunan Suramadu. Kiai yang mendukung pembangunan Suramadu adalah mereka yang tidak mau atau tidak dapat jatah mobil mewah dari pemilik feri. Mereka hanya punya mobil apa adanya, bahkan sebagian tidak punya meski hanya sekedar sepeda motor. Peristiwa ini akan terus menjadi gurauan masyarakat Madura di malam hari saat bersama sama menghabiskan segelas kopi.
Bagaimanapun, detik itu aku telah berada di punggung Suramadu. Jembatan ini telah berdiri dengan memorinya yang tak akan pernah terhapus.
Sampai dan menginjakkan kaki di Pulau Madura adalah yang pertamakalinya bagiku. Saat itu adalah sore hari. Kuning dan hening. Udara madura cukup segar dibanding kota seberang. Bahkan katanya Sumenep punya pulau Giliyang Dungkek yang dinobatkan PBB sebagai pulai dengan oksigen terbaik kedua di dunia.
Tidak banyak moda transportasi pilihan. Jangankan Graph, taxy pun tak ada. Bertolak dari hotel, kami harus mencari mobil angkutan desa yang orang sini namakan Keri. Kami perlu meninjau lokasi dan akses.
Kami dapat tumpangan setelah tak lama berdiri di tepian jalan. Luar biasa, pengemudinya seorang kakek. Jalanan Madura cukup lengang dan besar. Kondisi aspal masih bagus karena pembangunan kota Bangkalan pasca Suramadu. Terkejut, di sebelahku Henrico yang tegang. Supir Keri kebut-kebutan. Aku ketawa sekencang-kencangnya. Sopir yang tua tak menghalangi semangat kacong Madura yang terkenal pemberani dan nekat itu. Mobil berhenti di sebuah persimpangan. Kami turun.
Selain Keri, becak adalah moda transportasi yang digunakan untuk menyusuri jalanan yang lebih kecil. Udara lembab membuat jalanan berkabut. Meski kecil, jalanan ini cukup rapi. Trotoar dan pemandangan hamparan sawah yang luas diikuti hijau gunung di kejauhan. Di beberapa titik tardapat toko-toko modern dan tradisional. Rumah tinggal biasanya tidak terletak dipinggir jalan yang lebih cocok untuk menjadi lahan untuk jualan. Berbecak ria di kemuning senja dengan semilir angin terasa cukup berkesan. Menggoreskan memori yang indah untuk termaktup di perbendaharaan kisah untuk di ceritakan di hari tua.
Part f 17
Wednesday, October 19, 2016
Puisi Lupa
Saya lupa kepada siapa harus berbagi
Saya lupa kemana harus kembali
Saya lupa mengapa harus mengabdi
Saya lupa kapankah harus berdiri
Saya lupa bagaimana cara mencintai
Di saat kebenaran dan kesalahan saling bertukar posisi
Berkontestasi melalui berbagai cara
Melalui media yg mengikat para bangsawan dengan jas dan dasi
Tali pengekang ketunduk-taatan anjing pada janji-janji
Yogyakarta, 19 Okt 2016
Friday, September 30, 2016
Sudut Pandang Lain Tokoh Sejarah Pra-Kemerdekaan
Resensi Dari Penjara Kepenjara
Oleh: Muhammad Barir, S. Th.I *)
Judul : Dari
Penjara ke Penjara
Penulis : Tan Malaka
Penerbit : Narasi
Cetakan : 2014
Tebal : 560 halaman
ISBN : 979-168-333-6
Penulis : Tan Malaka
Penerbit : Narasi
Cetakan : 2014
Tebal : 560 halaman
ISBN : 979-168-333-6
Ditulis pada 1948, buku bertajuk “Dari Penjara ke Penjara”
ditahbiskan sebagai salah satu buku yang paling berpengaruh dan memberikan
konstribusi besar terhadap gagasan kebangsaan. Penulis yang pernah menimba ilmu di Herleem Belanda pada 1913
ini, menguraikan satu-persatu peristiwa yang sempat tidak tercatat oleh
sejarah. Kisah-kisah yang tercecer tersebut disusun secara jujur dan apa
adanya. Apa yang dialami Tan Malaka paling tidak berkonstribusi besar sebagai
koreksi atas pemutaranbalikan fakta selama ini.
Selain banyak
menguraikan aspek sosial dan karakter masyarakat tiap tempat yang ia singgahi,
penulis berupaya dengan bukunya melukiskan gambaran dominasi kelas, kolonialisasi,
dan pembodohan yang merajarela. Semangat perlawanan dalam mendobrak birokrasi saat itu membuat
penulis harus singgah dari satu penjara ke penjara
lainnya, dibuang ke Kupang dan sempat juga diasingkan hingga ke Filipina,
Singapura, dan pedalaman China di tengah sakit yang dideritanya.
Sebagai tokoh reformis,
Tan Malaka tidak luput turut mencurahkan barbagai ide dan pandangannya tentang
politik, filsafat, dan kemanusiaan. Di luar karakter penulis yang sangat
rasional, buku ini secara tidak terduga juga turut menyertakan kisah-kisah menarik
yang dialami penulis dalam pelariannya tentang kepribadian, lelucon, dan
hal-hal yang sebenarnya bersifat pribadi. Di antara kisah-kisah itu bahkan ada
bebarapa kisah hidupnya yang diakui sendiri oleh Tan Malaka sebagai incredible
sense berupa kebetulan-kebetulan yang menurutnya tidak dapat ditakar oleh
nalar, seperti lolosnya ia ketika berada di sebuah ruangan di kapal
Suzana dari patroli gabungan antara Amerika, Belanda, Inggris berserta
sekutunya (halaman 213). Selain itu, banyak kisah lain yang ia sempat ceritakan
seperti lolos ke beberapa negara dan berhasil mengelabui petugas keimigrasian
dengan berbagai nama samaran yang pernah ia pakai seperti Hasan Ghazali dan Estahislau
Rivera.
Melalui buku
ini, karakter pergerakan kemerdekaan di beberapa Negara tersaji secara fulgar, berangkat
dari kesempatannya dalam memimpin beberapa pergerakan di Rusia dengan pidato
bersejarahnya di rapat dewan, kehidupan di Belanda, kiprah di Filipina, dan pengalaman-pengalaman
lainnya di beberapa tempat yang pernah ia singgahi. Di luar posisi dan
kesempatannya menduduki jabatan penting, kehidupan Tan Malaka masihlah jauh
dari kemapanan, ia mesti kembali terasing, terpenjara, dan merasakan
kesendirian bahkan tak sempat sekedar menemui ayahnya yang meninggal karena
harus kembali dibuang ke Kanton oleh belanda pada 1925.
Ada beberapa
catatan tentang kelebihan buku ini. Beberapa hal penting yang akan tetap
relevan dan masih akan selalu diingat sebagai pemikiran Tan Malaka. Pertama
adalah pendidikan, kedua adalah kemanusiaan, dan ketiga adalah kemeredekaan. Corak
pemikiran yang menjiwai pergerakan Tan Malaka paling tidak berhasil menjadi
primadona di dalam dan di luar negeri. Ia berhasil mengumpulkan banyak dukungan
di beberapa Negara terutama di Filipina, bahkan saat penangkapan 1927, rakyat dan
akademisi Filipina melakukan demonstrasi besar-besaran baik melalui majalah
hingga melalui aksi turun ke jalan dalam menuntut pembebasannya. Rakyat dan
senat tinggi Filipina juga turut menyumbangkan dana jaminan sehingga tidak
kurang dari p. 13.000 berhasil dikumpulkan untuk kebebasan Tan Malaka.
Meski buku ini
dengan beberapa keterbatasannya mengingat faktor posisi penulis yang serba
kekurangan baik kertas maupun data ketika menulis dalam penjara., namun penulis
berhasil menyajikan informasi-informasi penting dengan sangat menggugah dan
tidak membosankan. Buku ini juga menjadi salah satu bahan renungan dalam memerhatikan
sejarah kemerdekaan, mengingat sejarah yang saat itu ditulis tidaklah semuanya berangkat
dari fakta. Sebuah buku Buku yang mengingatkan kita agar tidak menelan sesuatu
secara mentah-mentah (taken for granted) dan sebagai generasi baru, buku
ini membuka mata untuk mulai berfikir kritis atas fenomena yang terjadi.
*) Penulis dan
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Wednesday, June 1, 2016
Perubahan Pesantren Asketis Sufistik menuju Pesantren Asketis Sosial
Komentar perkembangan pesantren Nurul Qur’an al-Itiqamah, Guluk Guluk, dan
Sidogiri
Sebuah essay sosiologi agama
Muhammad
Barir, S.Th.I
Akar Sufistik Pesantren
Ahlu ash-Shuffah, berkembang dan dikenal oleh
umat Islam sebagai Simbol asketisitas (zuhud) umat Islam. Kehidupan mereka di
serambi masjid Nabawi dihabiskan untuk ibadah dan menuntut ilmu. Selain itu, keistimewaan
mereka adalah dapat selalu dekat dengan Nabi. Mereka merupakan sebagian
shahabat muhajjirin yang kemudian pergi meninggalkan rumahnya sebagai bentuk
loyalitas pada Islam. Makanan dan pakaian didapatkan dari kebaikan para sahabat
lain yang telah bekeerja atau dari sahabat anshar yang memang telah lama
menetap.
Perkembangan pesantren memiliki keterpengaruhan dengan lembaga
tradisional. Karl Steenbrink dan Zamakhsyari Dhofier menyebut pesantren terpengaruhi
oleh kebudayaan Hindu-Budha. Istilah santri berasal dari “shastri” atau orang
yang belajar kitab sastra. Tradisi pesantren juga identik dengan sistem Wihara
sebagai tempat penggemblengan diri dari hawa nafsu. Sedangkan, menurut Agus
Sunyoto, bukti pengaruh Hindu-Budha bisa dilihat melalui aktifitas harian dalam
pesantren. Ajaran dalam hindu-budha masih terefleksikan dalam pesantren.
Ajaran pesantren yang mirip dengan ajaran masa
Hindu-Budha adalah tentang prilaku santri pada guru. Dalam tradisi hindu-Budha,
terdapat ajaran tentang adanya tiga guru. Pertama adalah orang tua yang
mendidik dari kecil (guru rupaka), guru yang mengajarkan pengetahuan
ruhani (guru pangajyan), dan sosok pemimpin (guru wisesa). Kepada
guru-guru ini terdapat tata aturan dalam bersikap yang disebut guru bhakti.
Ajaran guru bhakti ini di antaranya ialah tidak duduk berhadapan dengan
guru, tidak memotong pembicaraan guru, menuruti apa yang dibicarakan guru,
mengindahkan perintah meski dalam kondisi sesulit apapun, berkata hal yang
menyenangkan guru, turun dari tempatnya ketika ketika guru tiba, jika guru
berjalan mengikuti dari belakang.
Selain pengaruh Agama Jawa kuno, pengaruh Arab
juga terlihat. Ajaran pesantren yang mengikuti perkembangan Zawiyyah di Libya
juga terjadi. Asketisme seperti Zawiyat Muhammad bin Ali as-Sanusi terlihat
dengan perilaku santri yang hidup sederhana. Hal itu bisa dilihat dari pakaian,
makanan, dan pemondokan. Di Indonesia, salah satu ulama yang disebut-sebut
merupakan guru spiritual adalah Nuruddin bin Ali bin Hasanji bin Muhammad
ar-Raniri. Ini merupakan pendapat Snouck Hurgronje. Ar-Raniri adalah ulama
keturunan keturunan Gujarat daerah India yang memiliki perkembangan tasawwuf
yang pesat. Ia merupakan guru mistisisme bagi orang-orang pribumi Aceh. Adanya
manuskrip berbahasa Melayu yang dihimpun Royal Asiatic Society yang disebut
oleh Van der Tuuk dalam essaynya menggambarkan kepulangan kedua sosok ar-Raniri
pada 1588 berhubungan dengan aktivitas mistisime yang tersebar dalam masyarakat
Aceh.
Sufistik Modern
Max Weber dalam kajian sosiologi agamanya
dalam karya German Ideology dan The Protestant Ethic and Spirit of
Capitalism menyatakan
bahwa tradisi sufistik berpengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat. Hal tersebut
pula yang menyelamatkan Jerman dari bencana ekonomi. Kesadaran untuk hidup
zuhud, tidak berfoya-foya, menjauhi gaya hidup hedonis, kesediaan bekerja keras
untuk menghimpun dana semacam zakat sebagai baitul mal mampu menciptakan
kekuatan modal. Jerman lalu berhasil mempertahankan negaranya dari bencana kemiskinan.
Lalu bagaimana dengan Islam.
Di beberapa pesantren seperti Tahfidh Nurull Qur’an al-Istiqamah Bngah
Gresik. Guluk Guluk Sumenep Madura, dan Sidogiri, pesantren-pesantren tersebut telah
menandai pergeseran corak tradisi pesantren telah. Santri tetap memiliki
amaliyah yang dijalani tiap harinya baik tradisi dzikir istiqamah maupun ritual
puasa-puasa tertentu, namun di luar itu sosok kiai sebagai kultural broker
berhasil membentuk mereka sebagai pribadi baru. Di pesantren Nurul Qur’an,
santri diajari mengelola peternakan, bercocok tanam, dan berbagai keterampilan,
tiap dua kali dalam satu minggu mereka pergi ke luar kota belajar berbagai
skill penunjang hidup nanti. Di pesantren Gulu Guluk, santri bekerja keras
membangun kembali hutan dan sanitasi demi menjaga lingkungan. Di pesantren di
Sidogiri, santri ditanamkan rasa perhatian terhadap kesejahteraan umat Islam
dengan pembangunan perekonomian. Pesantren tersebut menjadi pengembang kajian
ekonomi syariah dan menarik berbagai peneliti dari seluruh Indonesia untuk mencermati
capaiannya.
Tradisi zuhud (asketis) sebagaimana pengamatan Max Weber termaknai secara
baru dalam konteksnya yang baru pula. Zuhud tidak hanya bermakna menjauhi hidup
hedonis, namun juga hidup kolektoif dengan melakukan kerja keras dan hasilnya
dikelola dalam mengembangkan kesejahteraan sosial. Peningkatan SDM, penjagaan
lingkungan, dan perbaikan kesejahteraan masyarakat melalui perekonomian yang banyak
dilakukan oleh pesantren di atas bukan untuk dunia dan keperluan pragmatis. Pergeseran
yang terjadi di tubuh pesantren ini menunjukkan bahwa teori Geertz dalam The
Javanese Kijaji yang berasumsi bahwa kiai adalah penghambat kemajuan tidak
berlaku secara tergeneralisir.
Subscribe to:
Posts (Atom)




