Saturday, May 11, 2013

PERJALANAN TRADISI TULIS DAN BACA AL-QUR'AN (QIRO'AH SAB'AH)



 Oleh: Muhammad Barir


A.     LATAR BELAKANG  PEMBATASAN QIRO’AH
Pada dasarnya antara Sab’atu Ahruf dengan Qiro’ah as-Sab’ah adalah dua inti yang berbeda namun masih memiliki keterkaitan Historis.
Rosululla Bersabda:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَأَنِي جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ (رواه بخاري)[1]
Hadis ini turun ketika nabi berada di parit bani Gafar Pada dasarnya al-Qur’an diturunkan dengan satu bacaan namun Rosulullah dengan kebijaksanaan dan kecerdasan beliau dengan membaca kondisi logat dan karakter lidah umat manusia yang beraneka ragam, maka rosulullah meminta keringanan agar al-Qur’an dapat dibaca dengan ragam yang berfariasi agar memudahkan tiap logat dan lisan untuk menyesuaikanya. Sampai pada akhirnya permintaan rosulullah diterima dengan dua huruf rosul terus meminta dan akhrnya dikabulkanlah tiga huruf sebagai keringanan namun rosul tetap meminta keringanan lagi sampai akhirnya diberi keringanan dengan tuju huruf yang ketika manusia membaca dengan bacaan manapun akan diterima.
Namun seirng penyebaran pendidikan al-Qur’an ke berbagai daerah akhirnya al-Qur’an dapat masuk dihati dan lidah masyarakat sesuai dengan bacaan uama yang mengajarkanya namun ternyata banyak ditemukan bacaan yang berbeda ketika antara orang dari golongan dan daerah yang berbeda berkumpul dan saling membacakan al-Qur’an.
Pada perang Armenia dan Azerbaijan dengan penduduk Irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Hazaifah bin Yamamah. Ketika ia berkumpul dengan orang-orang islam ia melihat banyaknya perbedaan bacaan dan sebagianya bercampur dengan bacaan yang salah, namun ketika saling bertukar argument mereka mempertahankan dengan teguh atas pendirianya.
Huzaifah yang saat itu tidak bisa berbuat banyak kemudian lapor kepada shohabat Utsman. Dan akhirnya Shohabat Utsman menarik kesimpulan bahwa jika hal ini dibiarkan maka semakin bertambah tahun akan semakin banyak pula penyimpangan yang terjadi. Maka shohabat utsman menulis surat kepada Hafshoh untuk meminjam mushaf untuk disalin dan ketika telah disalin, mushaf itu disebar keberbagai daerah dan mushaf lainya dibakar.[2]
Pada era utsman banyak pertikaian yang terjadi mengenai Qiro’ah, sebagaimana dua orang murid yang beajar dari guru yang berbeda ketika berselisih dengan bacaanya maka perselisihan itu akan menjalar ke gurunya pula.
Namun pembatasan Qiro’ah dengan jalan penetapan Mushaf yang disepakati tidak sepenuhnya bisa membendung perkembangan Qiro’ah, karena pada dasarnya antara mushaf yang tertulis dengan Qiro’ah yang berupa oral adalah dua onti yang berbeda. Diantara berbagai Qiro’ah yang berkembang di situ terdapat Qiro’ah yang memiliki sanad yang dinukil secara sambung sampai pada rosulullah dan yang lainya adalah bacaan yang telah keluar dari jalur kebenaran. Untuk itu pada abad ke empat beberapa ulama banyak melakukan penelitian sanad mencari qiro’ah yang benar-benar memiliki sanad yang valid.

B.     MUNCULNYA IDE PEMBATASAN QIRO’AH
Pada dasarnya embrio munculnya ide pembatasan qiro’ah dimulai sejak abad ke-3 hijriyah seirirng munculnya karya Abu Ubai al-Qosim  bin Salam (w. 223 H) yang dalam isinya dipaparkan beberapa qori’ (ahli Qiro’ah) yang terkenal Abu Ubaid dikatakan oleh as-Suyuti sebagai orang yang pertama menuis karya Qiro’ah. Selain itu juga ada karya Imam Ahmad bin Zubair (w. 258 H) yang ia beri nama  الخمسة(al-Khamsah) dan kitab-kitab karya abu bakar ad-Dajuni (w. 324 H) yang ia beri nama الثمانية (ats-tsamaniyah)[3] dan banyak lagi yang lainya. Dalam kitab-kitab di atas termuat berbagai ahli Qiro’at yang telah dipilih,
pemilihan dan kritik kredibilitas imam Qiro’at ini muncul seiring banyaknya Imam Qiro’ah mengimplikasikan banyaknya pula Rowi dari mereka dan banyak pula sanad-sanad yang lemah sehingga perlu dicari mana sanad yang terakui validitasnya. Selain itu peringkasan dari berbagai Qiro’ah menjadi tuju dilakukan dalam misi menjaga Qiro’ah agar tetap murni dan menghindarkan dari munculnya Qiro’ah baru yang dibuat-buat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


C.     ERA PEMBATASAN QIRO’AH MENJADI TUJU
Peringkasan Qiro’ah dilakukan dengan menetapkan beberapa Qiro’ah yang diakui ke dalam susunan tertentu dengan kehati-hatian dalam mempertimbangkan mana imam yang layak dan mana imam yang kurang layak, hal ini dilakukan berdasar kwalitas sanad yang dipakai oleh tiap rowi.
Pada akhir abad ke tiga Hijriyah dan awal abad ke empat Hijriyah muncul seorang ulama’ yang bernama Imam Abi Bakar bin Mujahid al-Bagdadi (w. 324 H) yang merangkum berbagai Qiro’ah kedalam tuju Qiro’ah maka dari itu ringkasan ini dinamakan dengan Qiro’ah as-Sab’ah.

D.    TEORI ULAMA DALAM MELAKUKAN SELEKSI ROWI
Dalam rangka menghindari masuknya riwayat Qiro’ah yang lamah kedalam riwayat yang kuat yang nilai validitasnya dapat diakui berasal dari Rosululah SAW, maka para ulama membuat beberapa teori sebagai tolok ukur yang menjadi pedoman dalam seleksi rowi:
1.      Orang-orang yang termasuk diakui ilmu Qur’anya, yakni mereka yang mengetahui bahasa Arab, Qiro’ah, artikulasi perkata dalam al-Qur’an tahu karakteristik Qiro’at kelemahan dan kelebihanya. Ulama tingkat ini dianggap bisa sebagai tempat menyandarkan kepercayaan.
2.      Orang yang lemah dalam pengetahuanya namun bisa dipegang perkataanya.
3.      Orang yang menerima apa adanya tanpa mempertimbangkan I’rob (kaidah gramatikal) dan aspek kebahasaan karena lalai, lupa terhadap hafalanya namun dianggap oleh meyoritas orang sebagai seseorang yang jujur.
4.      Tingkatan terakhir ialah orang yang cerdas, pintar terhadap bahasa arab, namun ia membuat bacaan yang tidak pernah terdeteksi oleh riwayat lain dalam arti membuat sanad palsu.[4]




E.     TUJU IMAM YANG TERPILIH SEBAGAI AHLI QIRO’AH AS-SAB’AH
Kata “Qari’ “, yang bentuk jamaknya adalah “Al Qurra’ “ secara etimologi adalah merupakan isim Fa’il dari kata kerja “Qara’a”. sdang secara etimologis, ia mengandung pengertian seorang imam di antara para imam yang termuka dan kepada mereka qira’ah-qira’ah di nisbatjkan. Dan disini kami hendak menyelipkan informasi tentang mereka yang terkenal satu persatu, disamping sejumlah tokoh yang dikenal meriwayatkan dari masing masing qari’ itu. Maksudnya agar kita semua mengenal dan bisa menela’ah meski secara sepintas sehingga kiuta bisa mengenal secara ilmiah. Karena mereka merupakan pengemban estafet penjaga Al Quran al Karim melalui jalur jalur yang menyebar ke berbagai penjuru dunia islam, selama berabad-abad.
Imam ibn Mujahid telah menyeleksi diantara ulama ahli Qiro’ah dan dipilih tuju orang yang dianggap memiliki keimuan yang tinggi, memiiki sanad yang kuat, dan diakuwi oeh seluruh kalangan, tidak ditemukan keraguan atas kesholihan, kejujuran, sehingga banyak murid yang mengharapkan ilmu yang dimilikinya:
1.      Nafi’
Abu Ruwaim Nafi’  bin Abdur Rahman bin abi Na’im al Madaniy (w. 169 H) yang berasal dari Madinah. Dia mengambil qira’ah dari Abu ja’far al-Qariy dan dari sekitar tujuh puluh tabi’i. mereka mengamil dari Abdullah ibn Abbas dan Abu Hurairah, dari Ubaiy ibn Ka’b dari Rasulullah saw. kepadanya kepemimpipnan qira’ah mencapai puncaknya di madinah al Munawwarah. Dia wafat pada tahun 169 H. Yang masyhur meriwayatikan darinya antara lain Qalun dan Warasy.
2.      Ibn Katsir
Abu Muhammad atau Abu Ma’bad, Abdullah ibn  Katsir ad-Dariy (Ibn Katsir [w. 120 H]) dari Makah yang berpembawaan tenang dan berwibawa. Dari kalangan sahabat dia bertemu dengan Abdullah ibn az-Zubair, Abu Ayyub al-Anshariy dan Anas ibn Malik.
Dia meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibn Abbas dari Ubay ibn Ka’b dari rasulullah saw. dia berguru(qira’ah) pada Abdullah ibn as-Saib al- Makhzumiy. Abdullah ini membaca dihadapa Ubay ibn Ka’b dan Umar ibn al- Khaththab. Kedunya membaca dihadapan Rasulullah saw. dia wafat tahun 120 H di makkah al Mukarramah. Yang termasyhur meriwayatkan darinya tetapi melalui para muridnya adalah al Bazziy dan Qunbul.
3.      Abu Amr
Abu Amr Zabban ibn al Ala ‘Ammar al Bashriy(w. 154 H) dari Bashrah. Dia termasuk paling tahu tentang Qira’ah, disamping memiliki kejujuran dan kepercayaan dalam agamanya. Dia meriwayatkan dari Mujahid ibn jabr, Sa’id ibn Jubair dari Ibnu Abbas dari Ubay ibn Ka’b dari Rasulullah saw. dia membaca di hadapan sejumlah orang, antara lain Abu Ja’far, Zaid ibn al Qa’qa dan al Hasan al Basriy. Al Hasan membaca dihadapan Haththan dan Abu al ‘Aliyah. Sedang abu al ‘Aliayah membaca dihadapan Umar ibn al Khaththab. Dia wafat (w. 154 H).
 Yang masyhur meriwayatkkan darinya antara lain ad Dauriy dan as- Susi, akan tetapi melalui perantara al Yazidiy Abu Muhammad Yahya ibn al- Mubarak al- Adawiy, yang wafat pada tahun 202 H. dinamai al Yazidiy karena merupakan nisbat kepada Yazid ibn Masyhur, paman al- khalifah al- Mahdiy, karena ia mendidik anak Yazid ibn Manshur itu.
4.      Ibn Amir
Abdullah al- yahshubiy, nisbat kepada Yahshub (w. 118 H) dari Syam. Dia merupakan pakar dari Humair yang diberinama Kun-yah Abu Nu’im dan Abu ‘Imran. Ia merupakan seorang tabi’iy terkemuka, bertemu dengan Washilah ibn al- Asqa’ dan an- Nu’man ibn Basyr. Dia mengambil qira’ah dari al- Mughirah ibn abi Syihab al- Mahzumi dari Utsman bin Affan dari Rasullah saw. diakatakan ia membacakan dihadapan rasulullah langsung.
5.      Asim bin abi Najud (w. 127 H) dinamakan juga Ibn Bahdallah sedang menurut Mana’al Qottan beliau wafat tahun 128 H, dari kufah. Kata Najattu assyiyabah: Aku meratakan pakaian.
6.      Hamzah bin Habib az Ziyad (w. 156 H) dari Kufah. Dia membaca dihadap Abu Muhammad Sulaiman ibn Mihran al-‘Amasy dihadapn Zir ibn Hubaisy, dihadapan Utsman, Ali dan ibn Mas’ud, djihadapan nabi.
Dia seorang yang handal tentang kitabullah serta Hafidz di bidang Hadist, beliau wafat di Hulwan.
7.      Ali bin Hamzah al-Kisa’I (w. 189 H) dari Kufah. [5]
Dia adalah Abu Hasan Ali ibn Hamzah al- Kisa’I an- Nahwiy. Di beri nama laqob al Kisa’iy karena sewaktu ihram dia menggunakan Baju. Abu bakar ibn al- Ambari mengatakan: dalam diri al Kisa’iy terkumpul beberapa hal. Dia paling mahir dibidang Nahwu, satu satunya orang yang dianggap paling tahu tentang Gharib dan orang yang ahli Qira’a. sampai sampai banyak murid yang berduyun-duyun datang kepadanya dan meneladani segala yang dibuatnya.[6]
Dipilihnya ulama-ulama diatas disebabkan oeh dua hal, Pertama, karena ilmu yang melaut, Kedua, karena mereka memiliki sanad yang sambung baik lafadz maupun cara bacanya.

F.      ROWI DARI KETUJU IMAM
1.      Nafi’
a.       Qolun namanya ialah Isa bin Mulya al Madani (w. 220 H) di Madinah. dijuluki Qolun karena keindahan suaranya julukan ini berdasarkan bahasa Romawi yang arti Qolun sendiri adalah baik.
b.      Warasy namanya ialah Utsman bin Sa’id al-Misri (w. 198 H) di mesir dijuluki Warasy karena teramat putihnya.

2.      ibn Katsir.
a.       Al-Bazi nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Abu Bazah (w. 250 H) di makah.
b.      Qunbul nam lengkapnya ialah Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Khalid bin Sa’id al-Maliki al-Makhzumi (w. 291 H) di Makah.
3.      Abu Amr
a.       Ad-Dauri nama lengkapnya adalah Abu Umar Hafs bin Umar bin Abdul Aziz ad Dauri an-Nahwi (w. 246 H) di Bagdad.
b.      As-Susi nama lengkapnya ialah abu Syu’aib Sholih bin Ziyad Abdullah as-Susi (w. 261)

4.      Ibn Amir ayahshubi (w. 118 H) dari Syam.
a.         Hisyam nama lengkapnya ialah Hisyam bin Umar bin Nusair ia diberi kuniyah abul Walid (w. 245 H)
b.         Zakwan nama lengkapnya ialah Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Zakwan al-Quroisyi ad-Damasyki yang dilahirkan tahun 173 H dan wafat tahun 242 H di Damaskus.

5.      Asim
a.       Syu’bah nama lengkapnya ialah syu’bah bin Abbas bin Salim al-Kufi (w. 193 H)
b.      Hafs nama lengkapnya ialah Hafs bin Sulaiman bin Mughirah al-Bazzaz al-kufi (w. 180 H)

6.      Hamzah
a.       Khalaf nama lengkapnya ialah khalaf bin Hisyam al-Bazaz (w. 229 H) di Bagdad.
b.      Khalad nama lengkapnya ialah Khalad bin Khalid dikatakan pula Sairofi al-Kufi (w. 220 H)

7.      al-Kisa’I
a.       Abul Haris nama lengkapnya ialah lais bin kholid al-Baghdadi (w. 240 H)
c.              Ad Dauri nama lengkapnya adalah Abu Umar Hafs bin Umar bin Abdul Aziz ad-Dauri an-Nahwi (w. 246 H) di Bagdad beliau juga menjadi rowi Abu Amr yang telah disebutkan di atas.[7]


[1] Imam Bukhori, Jami’ ash shohih, Mausu’ah al Hadits, Global Islamic Software, AJ wentsink 1991-1997.
[2] Mana’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an (Jakarta: Litera Nusantara, 2002), Hlm. 192-194.
[3] Abdul Qoyum bin abdul Ghofur as-Sindi, Ulum al-Qiro’at (Beirut Lebanon: Darul Basyairul Islamiyyah, 2001), Hlm. 41.
[4] Abdul Qoyum bin abdul Ghofur as-Sindi, Ulum al-Qiro’at (Beirut Lebanon: Darul Basyairul Islamiyyah, 2001), Hlm. 42.
[5] Abdul Qoyum bin abdul Ghofur as-Sindi, Ulum al-Qiro’at (Beirut Lebanon: Darul Basyairul Islamiyyah, 2001), Hlm. 43.
[6] Muhammad Abdul adzim az-Zarqani, Manahilul Urfan fi Ulum al-Qur’an (Jakarta: Gaya Pratama Media, 2002), hlm 468.
[7] Mana’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an (Jakarta: Litera Nusantara, 2002), Hlm. 259-261.

PEMIKIRAN ABID AL JABIRI TENTANG NALAR ARAB (Bayani, Irfani, dan Burhani)


Muhammad Barir



A.     Biografi Muhammad Abid al-Jabiri
Negeri Maghrib yang kini meliput negara Maroko, Aljazair, dan Tunisia merupakan negara yang perah menjadi negara protektoriat Perancis, setelah merdeka Maroko mengenal bahasa resmi, yakni bahasa arab dan perancis, dengan masuknya negara ini, tidak hanya memberi pengaruh gerakan fisik namun juga memicu munculnya pemikiran-pemikiran terutama pemikiran Modernis, salah satu tokoh yang lahir di tengah kondisi inii adalah Muhammad Abid al-Jabiri.
Muhammad Abid al-Jaberi lahir pad tanggal 27 Desember 1953 di Firguig Maroko tenggara[1]. Menenai Tahun lahir ini dalam keterangan lain disebut secara berbeda yakni 1936.[2] Ia tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang mendukung partai Istiqlal sebuah pertain pejuang kemerdekaan dari penjajahan colonial Perancis dan Spanyol. Ia mengenyam pendidikan pertamanya di madrasah Hurratul Wathaniyah (sekolah swasta Nasionalis) yang didirikan oleh gerakan kemerdekaan. Dari tahun 1951 dampai 1953 ia belajar di sekolah lanjutan pemerintah di Casablanca, setelah Maroko merdeka, ia melanjutkan studinya di perguruan tinggi setingat diploma pada seklah tinggi Arab bidang ilmu pengetahuan (Science Section).
Sebelum bergulat di dunia akademis, Ia juga memeliki pengalaman politik bersama dengan Mehdi B. Barka seorang pemimpin sayap kiri yang kemudian bersamanya ia mendirikan Union National des forces Populaires (UNFP) yang kemudian berganti nama menjadi Union Sosialeste Des Forces Populairesi (USFP), Mehdi menyarankan agar ia menjadi Humas parta Istiqlal. di tengah padatnya politik yang dijalaninya, pada tahun 1959 ia memulai studi Filsafat di Universitas Damaskus Syiriya  setahun kemudian ia memulai studinya di Universitas Rabat yag beru didirikan. Ia dan kawan-kawanya di UNFP dijebloskan ke penjara bulan juli1964 atas tuduhan konspirsi melawan negara. Namun pada tuhun itu juga ia dikeluarkan dari penjara sekeluar dari penjara ia aktif mengajar di Universitas lanjutan. Pada tahuj 1967 ia menyelesaikan pendidikanya dan kemudian mengajar di Universitas of Muhammad V Rabat. Seluruh pendidikan formalnya diselesaikan tahun 1970 dengan menyandang gelar doctor.
Kondsi sosial masyarakat di Mesir saat itu sedang dalam goncangan dimana bangsa Arab harus merasakan penjajahan dan harus mengakui kekalahan dengan Israil dan mulai menyadari tentang keterbalikan posisi yang mereka alami dengan masa dimana Islam menjadi pusat pengetahuan menjadi cerminan kemajuan dunia. Saa itu seiring dengan munculnya kesadaran akan ketertinggalan dunia Islam, pemikir muslim terpecah menjadi dua kubu ekstrim antara pemikiran tradisionalis dan pemikiran modernis, namun Abid al-Jabiri mencoba memosisikan pada islam jalan tengah dengan bersifat eklektis.    
Al-Jabiri adalah seorang pakar Filsafat di dunia Arab Kontemporer, dia termasuk kelompok elit yang mengamati tradisi Filasafat klasik sehingga dapat merumuskan dan menyelami filsafat klasik itu secara hidup.[3] Perkenalan Abed al-Jabiri dengan dunia pemikiran filsafat dimulai dengan kanalnya ia terhadap pemikiran perancis bermula semenjak ia masih kuliyah di  Universitas of Muhammad V Rabat di Maroko sekitar decade 1950-an, saat pemkiran Marxisme berkembang pesat di dunia Arab. Dan ia sendiri saat itu tumbuh sebagaimana—yang dia akui sendiri—sebagai pengagum Marxisme, namun kekaguman ini kian teerkikis saat ia membaca karya Yves Lacoste tentang Ibn Khaldun. Filsafat adalah hal yang membangun pemikiran abid al-Jabiri tidak heran jika ia banyak mengunggulkan akal dalam pemikiranya, kekaguman terhadap filsafat ini juga terlihat dengan kekagumanya atas Ibnu Rusyd seorang tokoh filsafat Islam yang hidup di era keemasan pemikiran dan pengetahuan Andalusia.
Al-Jabiri banyak menyusun karya dibidang ilmiyah di antaranya ialah tulisan rutinnya di beberapa harian ternama di Timur Tengah seperti al-Syarq al-Ausath. Ia juga sering mengisi seminar baik di Timur tengah dan Eropa. Ia dalam seminar bahkan pernah berada dalam satu forum dengan Syaikhuna Allamah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Fatimah Mernisi di Berlin Jerman dalam tema Civil Society in the Muslim World.
Karya beliau banyak yang telah terbit namun juga ada yang belum diterbitkan di antaranya ialah sebagaimana yang disebut di atas yakni harian timur tengah al-Syarq al-Ausath, ia juga menulis tentang pemikiran Ibn Khaldun dalam karyanya Fikru Ibn Khaldun, Ashobiyah wa ad-Daulah karya ini ditulis 1971. Beliau juga melakukan kritik atas pendidikan dimaroko dalam bukunya adlwa ala Musykil at-Ta’lim tulisan ini ia tulis tahun 1973. Ia jiga meluncurkan dua jilid buku epistemology ilmu pengetahuan yakni Madkhol ila falsafah al-Ulum (pengantar filsafat ilmu), dan banyak buku lainya, dan buku yang menjadi magnum opusnya ialah Naqd al-aql al-Aroby kehebohan karya ini sampai-sampai membuat jurnal ilmiyah al-Mustaqbal al-Araby menganggap karya ini sebagai perestroika (perombakan) Arab karena berani membongkar epistemology yang telah mapan.   
B.     Redefinisi al-Qur’an
Kata القرأن ( al-Qur’an ) yang disandarkan pada kitab yang diturunkan pada rosulullah telah banyak memunculkan ragam definisi dan pengartian ileh para ulama, diantaranya ada yang memaknainya sebagai kata yang tersendiri yang memang disematkan kepada al-Qur’an dan tidak memiliki makna tertentu. Namun Abid al-Jabiri tidak sepakat dengan argument tersebut, ia lebih menganggap al-Qur’an adalah lebih ssuai jika dimaknai secara bahasa dengan “membaca”, lebih memilih kata membaca daripada mengumpulkan dengan menyertakan dasar surat al-Alaq. Mungkin diasumsikan bahwa al-jabiri ingin menekankan bahwa al-Qur’an harus terus dibaca dalam arti diplajari jangan sampai dibiarkan. Namun secara lbih spesifik aljabiri mmiliki pendapat tersndiri mengenai definisi al-Qur’an.
 Abid al-Jabiri mendefinisikan al-Qur’an sebagai “kitab yang diwahyukan oleh Allah mlalui Jibril kpada nabi Muhammad SAW dengan lisan Arab dan meneruskan kitab-kitab terdahulu (asy-syu’ara [26]:196).”[4] Dari definisi tersebut seolah al-Qur’an memang turun pada setting tempat dan waktu bangsa Arab namun juga turun adalah bentuk dari penerus dan penyempurna kitab-kitab sebelumnya dan untuk rohmat bagi semua pengikut Nabi Muhammad SAW dimasa sesudah nabi dimanapun berada. Jadi bahasa arab hanyalah sebagai pelantara. Oleh karena ia sebagai pelantara maka kajian historis dan normatifitas bahasa sangat penting. Namun lebih rinci ada tiga poin dari definisi al-Jabiri atas al-Qur’an, pertama, al-Qur’an bukanlah sama-sekali baru, namun merupakan penerus dari kitab sebelumnya yang menunjukan kontinuitas seruan tuhan, kedua, bahwa ia tetap merupakan pristiwa ruhani, dan ketiga, al-Qur’an menjadikan pembawanya sebagai mungdzir atau orang yang selalu “mengingatkan” atas haq dan batil.



C.     NALAR BURHANI DAN BAYANI SEBAGAI SUMBER
Salah satu teori yang coba dieksploitasi oleh Abid al-Jabiri ialah ialah sistem pengetahuan Bangsa Arab. hal ini dilakukan adalah sebagai proses landasan dasar dari kerangka pemikiranya atas aspek akar historisitas tradisi Arab pra Islam.
Masyarakat Arab dalam bingkai kesejarahanya hidup dan berkembang dengan budaya mistisimenya walaupun telah dikenal dan diketahui bahwa bangsa ini telah banyak memiliki para nabi dan rosul namun tetap saja budaya tersebut tidak bisa terlepas dari akar nalar bangsa Arab. Keadaan ini sampai pada akhirnya disimbolkan dalam sebuah kata yakni “Jahiliyah” yang merepresentasikan keadaan moralitas dan intelektualitas bangsa ini dan untuk itulah dimungkinkan menjadi sebuah alasan dipilihnya bangsa ini sebagai tempat Islam yang dibawa nabi Muhammad diajarkan.
Ada tiga sitem yang mewarnai pemikiran Arab Islam. Ketiga system ini yang nantinya akan ada korelasi dengan proses dinamika bagaimana al-Qur’an dibaca dan disalurkan. Dikatakan sebagai Arab Islam karena disitu nanti Islam juga berdiri sebagai pembentuk pemikiran tidak terbentuk dari pemikiran dalam ranah Islam Nabi terdahulu. Ketiga sistem tersebut adalah Bayani, Irfani, dan Burhani.
Pertama, Nalar Bayani atau yang dikenal dengan berfikir untuk mencapai pengetahuan atau nilai adalah dengan berpedoman suatu teks atau bahasa. Budaya Arab dengan sistem kebahasaanya yang unggul mendorong terciptanya karakter masyarakat yang menggebu dalam berlomba-lomba berkarya dengan sastranya dan pada saatnya Al-Qur’an Hadir dengan bahasa yang menakjubkan, ia turut serta dalam khazanah kebudayaan Arab ini.
Al-Qur’an memiliki sisi dimana ia bisa dikaji dengan metode Bayani yang menurut Herder (1733-1803) bahasa bukan sekedar alat untuk berfikir, namun model yang darinya pemikiran akan terbentuk, karena masyarakat bertutur sebagaimana mereka berfikir dan masyarakat berfikir sebagaimana mereka bertutur. [5] Posisi al-Qur’an walau memiliki kerangka sintagmasi dan nilai stilistika yang berbeda dengan bahasa Arab yang biasa dioralkan dalam syair ataupun dialektika sehari-hari masyarakat Arab, namun al-Qur’an tetaplah menggunakan bahasa Arab, dan untuk memahaminya maka pengetahuan Bahasa Arab adalah wajib sebagai pintu gerbang dalam memasuki ruang nilai yang terkandung di dalamnya.
Menurut Abid al-Jabiri, memahami al-Qur’an tidak bisa dengan pengalihan bahasa lain, karena tidak mungkin suatu teks dialihbahasakan tanpa mengalami perubahan. Dan jika al-Qur’an dialih bahasakan, bukanlah dianggap sebagai al-Qur’an, karena cakupan makna suatu kosa kata akan sangat tereduksi oleh satu pilihan makna, padahal satu kosa kata al-Qur’an terkadang memiliki bisa lebih dari satu makna.
Kedua, Nalar Burhani, nalar ini mewarnai pemikiran arab semenjak di utusnya para Rasul. Nalar ini memposisikan akal sebagai alat untuk menggapai nilai atau pengetahuan. Dalam kesejarahanya nalar ini sering berseberangan dan dihambat oleh nalar lain yakni Nalar Irfani dalam arti negative[6]. Bangsa Arab klasik merupakan bangsa yang kental nuansa sakralitas dengan budaya paganismenya dan sikap ketergantungan pada benda-benda alam sebagaimana matahari bintang untuk disembah. Karakter ini terbentuk dari kondisi geografis mereka sebagaimana dijelaskan Harun Nasution bahwa kegersangan dan keganasan gurun pasir membuatnya sering memposisikan upaya dibawah kapasrahan hidup atau sikap Jabary dibawah sikap Qodary. Mereka lebih sering menggantungkan taqdirnya sebelum berupaya dan akhirnya dipilihlah berhala-berhala untuk dijadikan sesembahan inilah sikap Irfani Negatif. Dan Rasul pun diutus dengan membawa pesan wahyu yang sejalan dengan akal. Serangan Burhani atas Irfani sebagaimana tergambar dalam kisah nabi Ibrahim yang menghancurkan beberapa patung kecil dan membiarkan patung besar, disitu ada dialog antara nabi Ibrohim yang menyatakan bahwa yang menghancurkan patung-patung berhala kecil adalah patung berhala yang paling besar dan ternyata disadari oleh orang kafir bahwa tidak mungkin patung bisa menghancurkan.
kisah nabi Ibrahim tersebut adalah gambaran bahwa wahyu datang adalah dengan nalar Burhani dan untuk menghancurkan Nalar Irfani dalam arti Negatif yang dalam al-Qur’an proses demitologi ini juga sering hadir berbentuk Tamtsil al-Haj 73, al-A’raf 191. Dalam kacamata sejarah Dari nalar burhani ini muncul beberapa ideology seperti mu’tazilah yang digagas Washil bin ato’ dan ideologi Dhahiriyah yang dibawa Ibn Hazm al-Andalusi (784 H) yang menolak sama sekali Irasionalitas dengan sikap demitologi yang menggebu.
Ketiga, Nalar Irfani, nalar ini dalam arti negatif sering dituding sebagai aspek yang bertanggungjawab atas ketertinggalan dunia Islam saat ini, nalar ini dianggap sebagai nalar irasional dan melakukan penyingkiran akal dalam proses mencari kebenaran.[7] Percekcokan antara nalar Irfani dan Burhani terlihat dalam aspek sejarah Islam dimana sejarah membuktikan bahwa dunia Islam maju ketika berpegangteguh dengan nalar Burhani dan dunia Islam mengalami masa kemunduran ketika berkutat pada nalar Irfani. Sebagaimana kemajuan disaat nalar Burhani menjadi pedoman dasar di masa Abbasiyah.
Bangsa Arab pra Islam ketika datang Rasul membawa ajaran yang Rasional setelah Rasul wafat maka bangsa ini kembali dunia irasionalnya atau yang dikatakan Irfani dalam arti negative, kemudian pada saatnya masyarakat Arab Pra Islam akan kembali pada ajaran yang benar dengan diutusnya Rasul yang lain namun suatu ketika kembali pada budaya irasionalnya dan diutus rasul lain sampai Nabi Muhammad. Inilah gambaran bahwa Nalar Irfani sangat berpengaruh dalam dunia Arab yang memang telah berjalan dari generasi ke generasi dan seolah sulit untuk dilepaskan dan pada akhirnya muncul kesadaran tentang kesalahan budaya ini dengan kekalahan dunia Arab Islam dengan Israel Yahudi.
Kesulitan mencabut budaya irasional bangsa Arab menjadi kesulitan tersendiri dalam menanamkan budaya berfikir yang diangap benar, untuk itu alMakmun Khalifah bani Abbasiyah sampai-sampai berpolitik Irasional agar budaya berfikir falsafi bisa diterima oleh bangsa arab saat itu, dimana ia menyatakan suatu malam bermimpi bertemu dengan seseorang beralis yang menyambung dan bermuka merah yang menyebut dirinya aristoteles dan menyatakan bahwa kebenaran bisa di peroleh dari Nash, kemudian Ijma’, dan terakhir adalah dengan menggunakan akal.[8]
Mengenai ayat-ayat yang Irasional tentang aqidah, adalah dapat dijelaskan dengan mencermati kejadian alam. Ia menerima nalar Burhani dan Bayani. Penerimaan nalar Bayani ini pada akhirnya yang menjadi dasar lahirnya teori al-Fashl bahwa teks harus berbicara dengan dirinya sendiri dan penerimaan aljabiri terhadap Nalar Burhani ini pada akhirnya melahirkan teori alwashl dimana seorang bisa mendekati teks menggunakan akalnya dalam melakukan penafsiran.


D.    METODE PENAFSIRAN
Al-Fashl dan al Washl sebuah teori untuk menjaga objektifitas teks yang digagas oleh Abid al-Jabiri dimana teori ini bertujuan untuk menemukan antara kemurnian kandungan teks dengan analisa dari pra-pemahaman seorang penafsir. Dalam melakukan penafsiran, seorang penafsir harus membiarkanteks berbicara dengan dirinya sendiri secara apa adanya. Baru kemudian di analisa dengan sepenuh pemahaman penafsir dalam menentukan hakikat makna hal ini bertujuan agar teks bisa difahami secara objektif.
Al-fash dalam arti terpisah atau memisah dimaksudkan agar teks jangan sampai tercampuri kemurnianya dengan pemikiran dari luar teks, teks harus terpisah dengan penafsir, teori ini memiliki beberapa metode pertama, pendekatan structural, yang menjelaskan bahwa teks adalah keseluruhan yang dibentuk dari suatu kesatuan yang konstan. Yang menunjukan bahwa teks tidak bisa berdiri sendiri namun harus difahami secara menyeluruh dengan mempertimbangangkan hubunganya dengan tekslainya, sebagaimana satu ayat al-Qur’an harus difahami siaq al-kalam atau hubungan sintagmasinya atau munasabah dengan ayat lainya, kedua, analisis Historis, dimana teori ini menjelaskan bahwa teks memiliki realitas konteks maupun asbab an-Nuzul yang harus dicari guna menemukan maksud dan tujuan dari pesan yang sebenarnya, ketiga, Kritik Ideologi, dimana teori ini adalah sebagai pengingat bagi penafsir sebagaimana semangat al-fahsl, dalam melakukan penafsiran, teks harus ditempatkan pada posisinya yang murni tidak terikat oleh suatu tendensi apapun.
Al-Washl merupakan teori yang digunakan dalam menganalisa teks sesaat sebelumnya seorang penafsir memisahkan diri agar teks berbicara dengan dirinya sendiri kemudian di sinilah tugas penafsir dalam mengaitkan taks, Historisitas teks, dan sosiologis teks masa turun al-Qur’an dengan kebutuhan masa ini.[9] Akal burhani berperan penting dalam melakukan analisa dan proses memahami dan menafsiri ayat al-Qur’an dengan segenap pengetahuanya dalam berijtihad.


[1] Dwi Haryono,Hermeneutika al-Qur’an Abid al-Jabiri” dalam Syahiron Syamsuddin (ed.), Hermeneutika al-Qur’an dan Hadits, (Yogyakarta: Elsaq. 2010) Hlm. 86.
[2] Abrori, “Studi Komparasi Muhammad Abed al-Jabiri dan Mohammad Arkoun”, Skripsi fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003. Hlm. 56.
[3] Abrori, “Studi Komparasi Muhammad Abed al-Jabiri dan Mohammad Arkoun”, Skripsi fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003. Hlm. 57
[4] Dwi Haryono,Hermeneutika al-Qur’an Abid al-Jabiri” dalam Syahiron Syamsuddin (ed.), Hermeneutika al-Qur’an dan Hadits, (Yogyakarta: Elsaq. 2010) Hlm. 92-93.
[5] Muhammad Abid al-Jabiri, Formasi Nalar Arab (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003) hlm. 224.
[6] Nalar Irfani bisa dipisah menjadi “nalar Irfani dalam arti negative” yakni proses pencarian kebenaran dengan instuisi yang Irasional. Kedua “Nalar irfani dalam arti positif” sebagaimana dikemukakan al-Kindi bahwa Nalar Irfani bisa diterima karena dia merupakan hasil dari proses berfikir secara burhani. Sebagaimana penjelasan abid al-Jabiri tentang keesaan tuhan yang walau Irasional namun dapat dijelaskan dengan akal dengan melihat adanya bukti kauniyah .
[7] Ibid. 232.
[8] Muhammad Abid al-Jabiri, Formasi Nalar Arab (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003) hlm. 365.
[9] Dwi Haryono,Hermeneutika al-Qur’an Abid al-Jabiri” dalam Syahiron Syamsuddin (ed.), Hermeneutika al-Qur’an dan Hadits, (Yogyakarta: Elsaq. 2010) Hlm. 100.